Kamis, 16 Juli 2009

aku teringat seseorang

Aku teringat seseorang, seringnya dulu kami bercakap ditenda kecil pinggir jalan, tengah malam kadang rintik menemani, sesekali terdengar deru motor dan asap angkot kosong menghias pandangan kami, pandangannya yang sangat padat isi dan pandanganku yang sangat padat kepenatan


Ia bicara dalam logat jawa nan kental, membanjiri rasa nyaman dalam resah tengah malam. Entah mau kemana lagi aku berjalan, ia hanya tertawa dalam senyuman terkulum. Entah berapa kali aku berkata 'ya kamu benar' dan berkata 'ya itu maksudku'


Umur yang terpaut satu dekade tak dapat dipisahkan oleh kesukaan kami, yaitu susu hangat rasa coklat yang perlahan kami nikmati, memang lebih sehat dibandingkan kopi ber kafein karena kami sangat peduli dengan apapun yang kami cerna. Teguk demi teguk, diantaranya percakapan yang biasa saja untuknya namun tak kusangka untukku kini ia adalah dewa kata-kata. Entah percakapan untuk mengisi kekosongan antara tegukan atau tegukan yang mengisi antara kekosongan kata


Dulu aku begitu ganjil dengan kebiasaannya membungkukkan badan saat berpisah, dulu aku begitu canggung melihat ketidakpeduliannya akan penilaian orang lain, tapi aku tidak melihatnya urakan.


‘Jadilah sederhana, perlahan kamu akan mendapatkan segalanya sempurna’


Sosoknya begitu tenang, penuh kematangan dan keramahan. Matanya tak pernah kulihat melompat bahkan sesekali bersinar memantulkan cahaya bulan. Keresahanku banyak terbayar saat-saat itu, impas dibuatnya.


'Tidak perlu berjalan cepat, kamu akan kesepian saat tiba, bahkan dari dirimu sendiri'


Beberapa menit aku merenunginya, seteguk susu dan diam, entah apa maksudnya. Beberapa saat setelah itu, aku melantur tentang sebuah pencarian dan seteguk susu lagi, untaian kata kembali mengalun


‘cari kedalam’


kembali aku hanya mendengar dan seakan tak peduli, tenggelam dalam topik pencarian panjang yang penuh tanda bertanya. Dia bukan apa-apa dan hampir tak terlihat oleh siapapun, tapi nyatanya aku peduli. Dia cermin diam dalam resahku.


'Siapapun yang mencari, ia akan menemukan'


Tak ada sedikitpun keinginan ku untuk bertanya mencari apa dan menemukan apa, padahal pikiranku terus mengganjal, tapi ke'ada'an sosoknya disampingku membuatku hanya mampu mendengar dan tak mampu bertanya apalagi menyanggah, namun ia berucap begitu saja. Dari begitu banyak mutiara yang meluncur darinya hanya beberapa saja yang terngiang dirongga jiwa yang tiba-tiba muncul satu demi satu ke ruang memoriku kini. Disaat aku sudah siap untuk berteriak lantang tanpa suara, melainkan hanya dengan tawa dan senyuman terkulum dibibirku. Kau pasti sudah mengerti sahabat bahwa aku menangis dalam memori kata-kata mu. Saat evolusi terjadi dengan sendirinya. Saat pencarian menjadi titik titik cahaya sisa setelah ledakan bunga api. Aku takkan bertanya apalagi menyanggah namun aku terkenang begitu saja.


Seorang sahabat berbagi asap jalan tengah malam, seorang guru berbagi kata-kata indah dan pendengar khayalan tai kerbau ku, seorang sederhana yang telah bebas dari keinginan nya untuk bebas, seorang pertapa di kaki gunung, seorang dengan segala kerendahan hati, seorang ayah dari manisnya kehidupan alam.


'Menemukan detik dimana kamu akan berhenti, saat tak ada apapun yang perlu dicari'


back to old days, 2006

jalan panjang, jakarta

to a friend, an inspiration.

Now I know why you left your shoes in my soul

Kamis, 21 Mei 2009

Pada Senja di Lantai Tujuh

Hari ini adalah hari seperti biasanya yang kulalui, satu-satu tanda cek pada list to do dalam organizer ku selesai sudah. Satu lagi waktu kuhabiskan dalam hitungan hari.

Hari ini aku harus bertemu dengan seorang klien disalah satu gedung perkantoran yang cukup terkemuka di kota ku. Hingar bingar sore kulalui menembus derasnya hujan yang turun sedari siang. Dan sampailah aku di sebuah café pilihan ku untuk memulai diskusi penting.

Hari ini adalah hari seperti biasanya yang kulalui, dan senja pun tiba persis diujung pembicaraan kami yang terhenti dengan salam perpisahan. Namun padatnya lalu lintas membuatku enggan untuk melajukan kendaraan untuk pulang. Segelas latte decaf telah menemani sesi pertemuan dengan klien tadi dan kini kutuntaskan dengan sebotol air mineral yang meluncur sekali tungging saja melewati leherku, hanya untuk menunggu jalanan agak lengang tentunya

Tak lama kemudian rasa rasa ingin buang air kecil tak dapat kubendung. Naiklah aku ke lantai 7 gedung ini, karena menurut pak satpam letak toilet itulah yang terdekat dari posisi ku saat ini.

Aku pasrah saja. Menyusuri lobby yang sudah temaram dan kesunyian yang menembus lorong hingga suara hak sepatu ku begitu memekakkan telinga ku sendiri.. Hingga.. “Tingggg” satu pintu lift terbuka dan tombol beranak panah keatas menyala disebelahnya. Kosong. Dan beberapa detik kemudian aku mendarat di lantai 7.

Gedung ini bukan gedung baru, tapi inilah kali pertama aku menginjakkan kaki digedung ini selama aku hidup. Lobi lantai7 yang sempit dibandingkan dengan lobi lantai dasar dan sangat terang benderang, namun dua lorong ke kanan dan kekiri sudah mulai gelap dan sangat kontras gelapnya. Pintu-pintu kaca dari ruang kantor di kiri kanan lorong tersebut telah padam total tanpa penerangan apapun, yang membuat lorong semakin terasa dramatis dan mencekam.

Sesaat aku diam, hilang arah. Aku mencari directory atau denah lantai. Dan aku menemukannya pada dinding lift, lengkap dengan angka 7 yang super besar disebelahnya.

Disana tertera posisi toilet dengan sangat jelas dan mampu kubaca cepat. Dalam hati aku sempat bergumam “Thank God..ternyata gedung ini cukup manusiawi untuk orang seawam aku”, aku ingin cepat-cepat mencari toilet itu, entah karena tidak nyaman dengan suasana gelap dilantai ini atau karena rasa ‘kebelet’ yang begitu luarbiasa mendesak.

Dan posisi toilet tersebut adalah di belakang lift ini. Sudah kuduga, ilmu arsitek yang kuambil saat bangku kuliah ternyata sangat membantu disaat-saat genting begini, walaupun banyak yg tidak terpakai pada sebagian besar umur hidupku.

Toilet akan berdampingan tidak jauh dari saluran lift, karena secara teori toilet pada gedung tinggi membutuhkan saluran vertical mengarah ke tanah untuk saluran pembuangan maupun untuk suplay air bersih. Dan pada umumnya gedung tinggi, semua fasilitas transportasi seperti lift dan tangga darurat, begitu juga dengan saluran sanitasi maupun elektirkal lainnya dijadikan satu dalam sebuah ‘lubang’ yang seringkali disebut ‘core’ atau inti gedung, yang menjadi pusat konstruksi struktur gedung.

Posisi toilet yang bertolak belakang dengan lift ini, ternyata justru membuatku harus memutar menyusuri salah satu lorong untuk mencapai pintu toilet. Aku tak pikir panjang, kaki ini begitu cepat memilih salah satu koridornya dan berjalan cepat tanpa menoleh sambil menggerutu dalam hati, “kenapa denah nya jelas tapi tetep dibuat susah sampai harus berputar begini sih. Pasti aku orang yang ke sekian ratus ribu yang mengerutu seperti ini”. Yang kucari hanyalah pintu padat tanpa kaca dengan symbol maupun tulisan toilet, namun sepanjang jalan yang kutemui 6 pintu kaca yang begitu gelap kulalui satu-satu dan pintu ketujuh adalah pintu dengan tulisan toilet, berbentuk pintu darurat dengan palang besi besar horizontal ditengahnya, sedikit saja ku kutekan palang besi, terbukalah engsel pintu. Dan aku sudah ada didalamnya.

Ternyata aku tertipu, dalam ruang ini masih ada pintu-pintu lainnya, masing-masing adalah pintu toilet pria, toilet wanita, toilet direktur pria, toilet direktur wanita, 2 pintu ruang janitor (ruang untuk menyimpan peralatan kebersihan toilet) dan sebuah pintu ke tangga darurat, sekali lagi dengan pegangan pintu dari besi besar terlentang horizontal pada daunnya..pintu ke tujuh.

Seperti tujuan semula, aku hanya ingin memilih pintu toilet wanita tentunya. Dan sampailah aku didalam. Sekali lagi tiada satu orangpun ku temui sejak lobi di lantai dasar hingga seluruh pintu kubikal toiletpun berwarna hijau bertulis ‘vacant’ menandakan tidak ada satupun orang didalamnya. Hingga rasa lega begitu kunikmati saat tugasku selesai untuk membuang air sisa ini dari tubuhku, rasanya hanya ingin bergegas keluar dari toilet ‘hening’ ini.

Rasa mencekam dan takut membuat degup jantungku bagai tabuhan drum yang terus-menerus. Setelah rasa lega hilang, berganti dengan rasa takut yang luar biasa dan membuatku panic. Aku terus berusaha mengawasi nafasku dan bicara “Jangan kau tinggalkan aku saat ini”, namun semakin kuucap kata jangan, saat yang sama nafasku begitu sulit kuamati. Aku hanya membutuhkan oksigen untuk mengalirkan darah ke jantungku yang semakin ramai bertabuh dan semakin cepat iramanya. Sesaat dengan cepat kuhilangkan kata ‘jangan’ dari pikiran ku dan semakin sibuk mengamati nafas, rasa panic dan takut kubiarkan menyelubungi ku, sambil mencuci tangan dan mengeringkan nya dengan kertas tisu, aku tetap mengamati nafasku. Apalagi yang mampu kulakukan selain itu saja. Aku benar-benar pasrah. Entah apa yang kutakuti. Apakah kesendirian di hening ini? Apakah kekosongan ini? Apakah kegelapan lorong tadi yang harus kulalui sekali lagi untuk mencapai lift sebagai satu-satunya jalan keluar dari semua rasa tak nyaman ini? Aku menghadap cermin besar didalam toilet ini. aku amati diriku dalam-dalam. Apa yang membuatku begini, rasa takut yang begitu besar, tanpa aku tahu penyebabnya. Sedalam apa aku mengenal diriku hingga penyebab rasa yang kurasakan saat ini tak mampu ku simpulkan. Rasa takut yang begitu nyata dengan alasan yang sangat bias. Tak ada yang mampu kulakukan selain bernafas dan pasrah. Tak ada pilihan lain selain itu, hanya itu saja yang mampu kubawa beserta tubuh ini untuk menyusuri lorong tadi.

Hingga kuputuskan meninggalkan toilet, masuk keruang transisi tadi dan mencari pintu keluar. Namun semakin panic rasanya saat handle pintu ke arah lorong tadi kutarik namun pintu tetap tak terbuka, hingga nafasku tersengal dan jantungku berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Aku mengambil nafas sangat panjang dan mengeluarkannya perlahan dengan masih memegang handle pintu, hingga kucoba lagi untuk menariknya. Pintu tetap tak bergeming. Namun hirupan nafas panjang tadi sedikit banyak membuatku lebih tenang dan menoleh ke penjuru ruang ini. Entah apa yang kucari, semua pintu kucoba buka, pintu toilet pria dan wanita dapat kubuka, namun selain itu semua pintu terkunci, kecuali pintu tangga darurat yang belum kucoba, karena posisinya yang cukup jauh dari pintu lainnya.

Disetiap ruang aku bicara, memanggil-manggil petugas kebersihan yang kuharapkan ada dan hasilnya nihil. Tak satu orangpun yang menyahut atas panggilan ku. Dan kembali panic dan takut menghantui diriku. Begitu banyak ketakutan-ketakutan atas apapun hal yang mungkin dapat terjadi pada ku setelah ini, membuatku semakin tak karuan. Namun nafasku tetap ada dan kusadari. Respon pertama tubuhku menghadapi ini adalah alat komunikasi telpon selularku didalam tas, dengan sigap kuambil dan tertera emergency call only di layarnya, tidak ada satu bar pun sinyal dalam ruangan ini. Aku menghujat dan mengutuk provider telpon sel ku dengan nada yang tinggi, kini amarah menyelimuti ku juga, kuperhatikan rasa takut ku telah hilang dan berganti dengan kemarahan yang tak jelas dengan siapa. Dengan satpam dibawah yang menunjukkan arah toilet ini atau dengan provider telpon sel, dengan mbak-mbak petugas kebersihan atau dengan arsitek gedung kampret ini, atau dengan semua pegawai-pegawai kantor dilantai 7 yang jelas-jelas tak ada satupun yang lembur malam ini, dengan orang-orang yang bahkan tak ada dalam ruangan ini yang bahkan pula tak pernah kukenal sebelumnya, bahkan tak akan kukenal setelah adegan ini berakhir nanti. Dengan orang-orang yang tak ada satupun wajahnya mampu kegambarkan dalam pikiran ku saat ini.

Tiba-tiba airmata mengalir dan rasa lega sekilas kurasakan. Aku cukup tenang untuk menghadapi ini, untuk kembali berpikir jernih dan menikmati rasa jungkir balik ini. kupaksakan bibirku tersenyum, lumayan juga, rasa lega semakin terasa. “Apapun yang Kau rencanakan untukku saat ini, akan membuatku menjadi orang yang lebih baik, apapun Tuhan, aku serahkan segalanya” . Tiba-tiba semua rasa hilang dan ketenangan meghembus kedalam diri. Dan disaat yang sama, aku baru sadar dan melihat satu pintu yang belum ku coba untuk ku buka. Pintu ke7. Pintu darurat dengan satu besi besar melintang ditengahnya, seperti pintu ruang ini saat aku masuk dari lorong tadi, begitu mirip walaupun tak serupa bentuknya. Namun sebagai seorang lulusan arsitek aku pun tahu persis bahwa pintu tangga darurat hanya dapat dibuka dari satu sisi, apabila handle besi ini ada disisi ini artinya pintu ini hanya bisa dibuka dari ruang ini dan tak dapat dibuka dari ruang disisi lainnya, karena secara teknis, fungsi pintu tangga darurat adalah untuk menghindari orang-orang tersasar dari lantai-lantai atas ke lantai-lantai dibawahnya dan hanya tertuju pada lantai paling bawah satu level dengan permukaan tanah, agar dari segi keamanan orang-orang yang panic akibat ‘kebakaran’ atau gempa bumi dapat langsung menuju ke lantai dasar tanpa tersasar ke lantai-lantai lainnya. Dan pintu yang terbuat dari besi ini pun juga menahan api agar tidak menjalar ke lantai-lantai lainnya sehingga dapat lebih mudah untuk dipadamkan.

Tiba-tiba aku berpikir, seharusnya pintu inipun dapat ku kategorikan sesuai dengan teori yg aku terima saat kuliah. Dan tanpa melalui lift, aku bisa saja turun melalui tangga darurat hingga ke lantai dasar. Namun apa yang dapat menjamin bahwa pintu dilantai dasar pasti dapat kubuka dari dalam? Sedangkan apabila aku kembali ke lantai ini, pintu ini tak dapat kubuka lagi dari sisi ruang tangga. Aku tak mungkin dapat kembali ke ruang ini.

Tak berapa lama aku melihat tempat sampah plastic yang lumayan besar dan kokoh, segera kudorong mendekati pintu darurat. Untuk mengganjalnya selama aku mencoba menemukan pintu darurat di lantai dasar benar-benar dapat kubuka dari dalam ruang tangga. Seburuknya yang terjadi adalah pintu tidak dapat kubuka dan aku harus menaiki tangga hingga ke lantai 7 melewati pintu yang masih terbuka oleh ganjalan tempat sampah. Aku tersenyum, merasa paling pintar diruang ini dan tentu saja merangkap paling bodoh, karena tak ada satu orangpun selain aku tentunya.

Kenekatan luar biasa yang kukumpulkan hingga penuh hanya dalam waktu beberapa menit, membuatku bulat untuk menekan pintu tangga darurat tadi dan walah..dia terbuka. Dan setelah ku cek pada sisi dalamnya, benar saja, pintu ini polos tanpa handle dan tak akan dapat kubuka apabila aku harus kembali ke lantai ini. jadi rencana tempat sampah ini tetap kujalankan. Dan mulailah perjalanan kepasrahanku menuruni tangga satu-satu ke bawah. Dan pada setiap lantai nya aku menghitung jumlah pintu tangga darurat tiap lantai yang kutinggalkan, dan seharusnya paling bawah adalah pintu ke 7 dari lantai 7 diatas sana…pintu ke 4, pintu lantai 3, dan jantungku berdegup lagi..rasa takut kembali datang, silih berganti dengan kecemasan, semakin tak karuan saat kakiku menginjakkan lantai pintu ke 2. seharusnya tinggal 2 pintu lagi dan aku bebas dari ketidaknyamanan ini. ya seharusnya begitu.

Namun hitunganku berhenti di lantai 1. tangga sudah habis kuturuni dan tak ada lantai dasar. Lantai ini hanya lantai beton kosong dan bau pengap, lampu seadanya, remang-remang, sangat berdebu dan mencekam. Aku berteriak, marah, kecewa, sedih, takut, cemas semua menjadi satu. “Aku terlalu letih”, fisikku letih tanpa cairan karena sudah kubuang tadi tak bersisa, hati ku remuk tak karuan, apa lagi yang harus kupasrahkan padaMu? Aku sudah tak punya apa-apa, selain anak tangga di depan mataku yang harus kunaiki satu-satu hingga lantai 7. Aku sudah tak punya apa-apa. Aku menangis keras. Menjerit menangis seperti anak kecil yang ketakutan. Tak kubiarkan diriku lama bersimpuh dilantai ini, segera kumulai menaiki anak tangga satu-satu…keringat yg mengucur deras seiring dengan keram kaki saat menaiki anak tangga satu-satu, mata yang berkunang-kunang dan udara pengap yang sangat menyiksa, hati yang dihinggapi rasa tumpang tindih tak karuan, semua hanya penjahat bagi jiwa. Monyet-monyet penyiksa. Aku tetap ada dengan keinginanku untuk bebas dan hanya nafas ini yang benar-benar setia. Disetiap langkah berat yang kulalui…membuatku tetap sadar menghitung jumlah pintu yang kulewati, 4, 5, 6…..dan 7. Lantai kesialanku dan keberuntunganku. Aku melihatnya bagai pintu surga yang begitu berbeda dengan yang kubayangkan sebelumnya. Kaki yang mati rasa, mulutku yang kering, airmata yang mulai kering juga, mata yg berkunang-kunang, jantung yang terus berdegup kencang. Hati yang mati rasa. Pintu lantai 7 ini begitu berbeda sejak kutinggalkan tadi. Ia begitu terlihat indah dengan tempat sampah yang hampir tergeser kedalam sepenuhnya dan hendak menutup dan meninggalkanku diruang tangga aneh ini. Tapi tepat pada waktunya ia mampu kuraih dan tempat sampah terbalik tumpah kedalam. Hawa dari ruang ini lebih terasa begitu luar biasa menyejukkan dan indah..ruang yang sama yang beberapa saat lalu kukutuk tanpa ampun.

Sejauh ini aku baik-baik saja. Dan sepatu yang sejak lantai 2 sudah kujinjing dengan tangan kini kukenakan lagi. Rambut kusisir rapih, keringat kuseka dengan kertas tisu. Aku kembalikan lagi semua seperti semula. Dan aku merasakan keutuhan yang luar biasa. Semua organ tubuh yang terasa berceceran di 7 lantai deretan anak tangga tadi, kini bagai bersatu tanpa kukomandoi dan jantung serta nafas dapat kurasakan kembali utuh pada tempatnya, mataku tak berkunang lagi. Aku hanya menelan seteguk air yang kuambil segenggam telapak tangan dari air kran wastafel, namun kenikmatannya melebihi air mineral satu botol yang tadi sudah kuhabiskan di café. Inilah air kehidupan untukku. Aku luar biasa hidup. Aku benar-benar pasrah apapun yang terjadi setelah keutuhan ini. Aku mengambil nafas panjang sambil memejamkan mata sejenak dan menghembuskannya secara perlahan. “Kini aku benar-benar siap” dan keluarlah aku dari toilet wanita menuju si pintu lorong yang awalnya tak dapat kubuka…inilah kado terindah dari segala macam yang telah kulalui tadi. Pintu itu sedikit terbuka, dengan celah yang cukup besar untuk dapat kubuka, yang awalnya tadi tidak dapat kubuka sama sekali. Ada sebersit rasa keingintahuanku untuk terus bertanya dalam hati atas apa yang kualami tadi, namun pertanyaan tadi bagai menguap dengan cepat dan disapu bersih oleh nafasku. Aku berhenti bertanya saat tak ada satupun yang pantas kupertanyakan. Tak ada yang pasti, bahkan ilmu teori arsitek tentang sebuah ruang tangga darurat pun mampu dipatahkan oleh ketidakpastian pada sore ini.

Aku mendarat di lantai dasar menggunakan lift yang sama dengan selamat, bergegas keluar, bertemu pak satpam tadi dengan sumringah dan tersenyum penuh rasa kebebasan yang utuh, “Terima kasih pak” sambil lalu. Dan pak satpam pun tersenyum dingin, membuat bulu kudukku sedikit naik dan sekilas merasakan keanehan dalam senyumnya, tapi sudahlah. Tak kusangka ia menjawab sapaku, “Hati-hati, Selamat Malam”, dan aku hanya mengangguk.

Hujan deras kembali mengguyur malam ini, tanpa pikir panjang aku menerobos hujan berjalan tenang kearah parkiran mobil, cukup jauh hingga satu badan basah kuyup, namun tak terasa dingin. Seperti Alam membasuhku sempurna. Entah apa yang membuatku memutuskan melihat langit dan membiarkan wajahku terasa sedikit sakit oleh rintik hujan yang semakin deras. Sesaat kemudian aku berjalan cepat meninggalkan gedung perkantoran ini.

Mobilku sudah terlihat dalam gelap di kejauhan lapangan parkir dengan lampu taman bercahaya kuning remang-remang seadanya dan tanganku sibuk mencari kunci kedalam tas. Dan ups, kunci tertarik dan jatuh ke kubangan air di depanku, sesaat aku diam, aku sibuk menyapu pandangan ke arah kubangan untuk mencari dompet kunci dan aku menemukannya, tepat disebelah sebuah benda seukuran dompet kunciku, berbentuk kantung cepuk berwarna jingga dan kotor oleh tanah. Kantung jingga kuangkat, begitu juga kunci mobil yang sudah sangat kotor. Tanpa berpikir panjang, aku terus berlari menuju pintu mobil.

Setelah duduk didalamnya, kunyalahkan mesin mobil dan menunggu sebentar. Seakan aku tak peduli dengan basah disekujur tubuhku, aku begitu penasaran dengan kantung jingga yang kutemukan dalam kubangan tadi. “Apa ada yang kehilangan benda ini? Punya siapa dan harus kuapakan?” sesaat aku memandang kantung kecil ini tanpa berani kuintip kedalamnya, sambil menyisir pandangan ke lapangan parkir, kalau-kalau ada yang sedang mencarinya, tapi malam itu sudah sangat sepi, tak ada siapapun. Benda ini seperti tak ada yang punya. Sesaat aku terdiam dan memandanginya lebih seksama. Mengapa begitu familiar bentuknya? sungguh sangat cocok digenggam dalam telapak tanganku. Ada sesuatu didalamnya. Jangan-jangan benda ini juga kepunyaanku yang ikut tertarik dengan kunci mobil saat tadi kukeluarkan dari dalam tas dan melompat keluar bersama kunci. Bisa jadi. Jadi tak mengapa untuk kucoba buka, mungkin saja memang punyaku.

Aku terkejut, tertawa dan menangis, benda yang kukeluarkan dari dalam kantong kecil warna jingga adalah sebuah kompas mungil terbuat dari logam berwarna emas dan sangat indah. Seseorang dalam jiwaku bergumam “Ya ini memang punyaku, terima kasih Biru, suratku telah kau terima entah dengan cara apa, dan aaah leganya, jarumnya sudah utuh seperti semula, tidak patah seperti dulu kutinggalkan untuk kau perbaiki. Dan mungkin inilah cara untuk mempertemukan kita pada dimensi kepingan waktu yang sama agar kompas ini dapat kugenggam lagi”

Seutuh jiwa kutinggalkan lapangan parkir gedung perkantoran ini. Sesaat kutengok jam tangan ku, menunjukan pukul 19.07 pada jarumnya.

“Biru, aku betul-betul merindukan Mu.
Tanpa Mu aku tak mampu menjelajah waktu
Dan kompas emas ini kembali berkilauan ditanganku.
Aku tahu Kau akan selalu ada dan tak pernah meninggalkanku
Entah dengan cara apa, Kau juga tahu isi kerinduan jiwaku
Kini aku siap berjalan, tapi kali ini Kau tak kan jauh dariku”
Jingga, 2009.

Jumat, 01 Mei 2009

sepanjang malam aku menangis

Satu malam pada Desember 2008 :
Entah apa yang membuatku bersimbah airmata dan membengkakan mata
Sampai-sampai kepala ku sakit, mau pecah, dan muntah

Aku merasa begitu rindu, sangat rindu
Tanpa mampu berkata pada apa pada siapa

Tapi mungkin pada Tuhan dan diriku
Disaat yang sama dengan rasa yang sama dengan jumlah dan besaran yang sama
Rasa campuran yang entah kenapa rasanya sama

Tuhan dan aku sama, aku tuhan dan tuhan aku
Aku tidak ada tuhan juga tak ada
Aku ada tuhan juga ada

Saat diri ini bicara sendiri mungkin nalurilah yang diajak bicara
Saat diri ini bicara pada tuhan mungkin nalurilah yang berperan sebagai tuhan

Alam berputar untuk diriku hari ini
Semua berbalik menhujam diri
Mencambuk sampai merintih berbicara: tuhan ampuni aku dan aku ampuni tuhan

Atas semua ciptaan yang diberikan padaku
Sekuat jiwa yang merintih menangis dan merindukan hangat tubuh mu tubuh ku
Atas semua tarikan dan hembusan nafas ini
Semua cerita dalam bilangan waktu
Atas semua detak jantung dan aliran darah dalam tubuhku tubuhmu

Hai, aku berbicara padamu, wahai diri wahai tuhan
AKU TIDAK PEDULI
Dengan gerbang bersinar yang seringkali kau janjikan didepan mataku
Aku hanya rindu menyentuh diri menyentuh tuhan
Dengan marah dalam tangis spanjang malam
Saat jiwa sedang didustai oleh diri dan tuhan, tapi aku MENCINTAIMU

Kini aku terbangun bahwa Aku yang kukenal sekian thn lamanya, hanya seujung anak gunung yang menyembul dari permukaan lautan
Wahai tuhan semesta alam, aku begitu kecil hingga kau injak-injak dan kau kangkangi di bawah langit birumu dan langit hitammu dan jajaran bintang dan mataharimu
Wahai tuhan semesta alam, aku begitu besar hingga bayangan sayaplebarku menutup dalamnya lautan jiwa hingga ke inti bumi sampai panasnya mampu menembus tulangku sendiri

Aku frustasi aku bahagia, rasa campur aduk dan hilang..semua tidak ada

Menembus tatapan dalam mataku didepan cermin, semakin tak kukenal tapi sekaligus semakin kukenal..lahir dan batin. Aku melihat setan dan malaikat dalam tajamnya perjalanan tatapan mata ku kedalam nya

Tuhan, kau tak sekedar ada untuk mengharapkanku menjadi PENGECUT akan dosa
Dan kau tak sekedar ada untuk mengharapkannku menjadi RAKUS akan hitungan pahala
Aku hanya akan melangkah dengan doa
Melangkah dengan rasa dari diri yang terdalam dimana kutemukan dan kusimpan tuhan
Untuk surga dan neraka ku sendiri di bingkai waktu lainnya kelak nanti

Semua terus berputar, berjalan cepat, bergulir, mengalir tanpa mampu kutangkap apalagi kupegang atau kusentuh dengan tangan bahkan dengan mata sekalipun. Takkan pernah mampu.

Persis seperti setelah chaos, dalam sunyi disana tuhan berdiri memapahku..disana aku ‘hidup’ dan tangis ini adalah caraku memegangnya, mencoba memeluknya demi menebus kerinduan yang sudah terlalu lama dan membawanya tertidur, dalam isak. Dan disana pula muncul lagi bingkai waktu yang sempat muncul beberapa malam sebelum malam ini.

Aku tak pandai bertutur, tapi rasa ini begitu kuat menyatu, dalam isak dan senyum ketulusanku memandang langit pagi ini.. Aku mencintaiMu.

perjalanan indah (menuju shunia)

Lelah tak habis jiwa terus mencari
Walaupun ia juga akhirnya menyadari
Bahwa diluar dan didalam diri
Hanya sebatas kulit tipis satu mili

Perlahan ke dalam mencari
Begitu menusuk rasa dan nafsu diri
Sedang diluar batas kulit tubuh ini
Ternyata hampa sekaligus penuh uraian tak pasti

Bagai gerbang untuk bertemu diri
Saat jiwa bermain dan menyelam dalam sunyi
Disanalah jawaban atas semua
Yang berbatas dan Yang tak terhingga

Rabu, 25 Maret 2009

Rasa sakit hanyalah rasa belaka

Selama 30 thn saya dididik untuk mempercayai kemampuan dokter dan obat-obatan. Dan saya tidak melawan atau menentangnya. Sama sekali tidak. Saat ini pun tidak. Saya sangat percaya dengan kemampuan dokter menganalisa, kemampuan obat-obatan dalam menyembuhkan sakit, ringan maupun berat.

Yang saat ini saya sadari juga adalah betapa pikiran kita begitu percaya dengan perkembangan teknologi dan ditelannya bulat-bulat. Tak bisa dipungkiri karena begitulah hidup kita selama bertahun-tahun. Sakit kepala ya minum obat sakit kepala, batuk ya minum obat batuk, pilek ya minum obat untuk pilek, sakit uluhati dan perih ya minum obat maag, sakit perut buang-buang air ya minum obat anti diare, sakit gigi ya minum obat penahan rasa sakit, kalau semua sudah tidak mempan, alternative yang diambil ‘pikiran’ untuk cepat mengambil tindakan adalah ‘kayaknya obat-obat warung sudah tidak mempan, ini saatnya ke dokter, minta obat yang lebih manjur’, atau berapa banyak dari kita yang berpikir, ‘jangan coba-coba minum obat sembarangan, mending cepat-cepat ke dokter jadi benar-benar tahu sakit apa dan obat yang diminum lebih pasti, tidak coba-coba’, seberapa banyak juga dari kita yang punya sederet no.telpon dokter-dokter langganan di buku telpon emergency di rumah atau di phonebook pada hp, kalau-kalau dibutuhkan segera?, tidak bisa terelakkan bahwa sebagian besar dari kita punya respon yang sangat spontan seperti diatas saat sakit menimpa kita, atau sanak keluarga yang kita cintai, terutama anak.
Apalagi kita sadari pula bahwa di zaman dengan segala macam kemajuan teknologi ini, cuaca pun semakin tidak menentu, akibat panas global, musim pun menjadi sulit untuk diprediksi, tiba-tiba hujan, tiba-tiba panas, bisa juga berbarengan saat panas hujanpun turun. Badan kita pun jadi terkaget-kaget. Kalau boleh berandai-andai mungkin segalanya akan lebih mudah kalau kita punya semacam ‘tombol’ adaptasi yang bisa di on/off secara manual atau otomatis untuk mendeteksi apabila ada bakteri/virus yang datang ke tubuh kita. Bebaslah kita dari sakit. Paling tidak dari sakit-sakit ringan sehari-hari.

Berapa banyak dari kita yang berani mengambil resiko untuk sesekali saja, bukan untuk berhenti percaya akan kemampuan dokter dan obat-obatannya untuk menyembuhkan penyakit, tapi hanya menambahkan satu lagi kepercayaan terhadap satu hal lainnya yang dapat menyembuhkan sakit, yaitu diri kita sendiri? Berapa banyak dari kita yang berani mengambil resiko ini? untuk ‘pikiran’ yang sudah begitu percaya akan dokter dan obat-obatan sepertinya ini mustahil. Maksudnya percaya dengan diri sendiri? Bukan untuk nekat atau menyiksa diri disaat sakit tapi untuk sekedar percaya bahwa secara naluri dan secara alami tubuh ini sudah sangat-sangat pintar luarbiasa, dengan system pertahanan tubuh yang begitu ajaib, mampu menyembuhkan dirinya sendiri, melawan segala macam virus dan bakteri yang masuk atau baru dalam tahap mengancam diri. Bukankah kita percaya pada Tuhan? Bahwa Dia telah menciptakan mahlukNya dengan system tubuh yang sangat sempurna. Tidak hanya tubuh yang diciptakan dengan sempurna, tapi pikiran yang mendukungnya pun mampu ambil bagian dari kesembuhan, suasana hati yang menyokongnya pun turut ambil bagian dalam kesempurnaan itu. Saya tidak sedang mencoba untuk menyangkal kehebatan analisa dokter dan keajaiban obat-obatan, karena saat ini pun mereka ada karena Tuhan mengijinkan mereka ada, untuk menyembuhkan.

Namun saya rasa tak ada salahnya untuk menengok sebentar saja kedalam diri, bahwa apapun yang ada diluar sana hanya akan berfungsi sempurna apabila kita mampu menyadari bahwa akar segalanya ada didalam diri dan semua yang ada diluar diri selalu siap pada ‘pos’ nya masing-masing untuk membantu diri ‘menyelesaikan’ tugasnya apabila dibutuhkan. Apapun bentuknya. Dokter, obat, psikolog, terapis, pengobatan alternative, dll. Kita hanya perlu menyadari pentingnya : kepasrahan yang total, ketulusan untuk merasakan, menerima rasa sakit dengan legowo, terima saja, rasakan saja, karena hanya itulah saja yang membuat kita menyadari bahwa sakit ini benar-benar ada dan berwujud pada tubuh kita. Ia hidup saat itu bersama kita. Sama sekali kita tidak menolak atau melawan. Hanya dengan itu satu-satunya jalan tubuh ini berani dan mau mencoba untuk melewati setiap detik rasa sakit, untuk mengijinkan tubuh ini bergerak maksimal menyembuhkan dirinya sendiri.
Dan untuk membantunya yang perlu kita lakukan adalah menyadari betapa pentingnya istirahat, kalau boleh saya gambarkan kata-kata istirahat ini tidak hanya menyiapkan diri untuk tinggal dirumah atau tidur semata, melainkan istirahat total dalam arti yang lebih dalam, seperti istirahat pikiran, istirahat dari kesibukan sehari-hari yang biasa kita jalani, ada baiknya mematikan handphone, tidak terkontaminasi oleh siaran radio, televisi dan lain-lain, berikan waktu untuk tubuh ber istirahat dengan total. Cobalah untuk ber’sahabat’ dengan tubuh lebih intens. Guru yoga saya pernah berkata,"Respect your body, it has its own limit..listen to it carefully, you'll be surprise of what it can be". Dengarkan nafas, biarkan nafas panjang menjadi panjang dan nafas pendek menjadi pendek, apa adanya. Dengarkan tubuh kita ‘hidup’ dan sadari bahwa ia sedang ber’usaha’ untuk mengimbangi segala gangguan yang masuk ke dalam diri. Berikan ia asupan gizi yang ber’sahabat’, Guru meditasi saya juga seringkali mengingatkan untuk minum air putih lebih banyak dan tak apa untuk buang air kecil lebih sering, untuk menggantikan cairan yang lepas akibat energi yang terkuras secara fisik maupun psikis.
Kembali, karena rasa pasrah yang total tersebut, tubuh ini menerima ‘sinyal’ dari diri untuk mengijinkannya sakit, untuk kemudian mengijinkannya sembuh. Apabila kita cukup ‘peka’ untuk menyadari sinyal dari dalam, ada saatnya kita akan tahu, kapan tubuh ini membutuhkan bantuan dari luar, kapan ia akan melewati masa kritisnya untuk masuk kedalam penyembuhan. Kita hanya perlu siap dan memanjangkan antenna kesadaran saat ia benar-benar membutuhkan bantuan dari luar.

Lalu bagaimana kah cara melewati rasa ‘pasrah total’ itu? Kita hanya butuh rasa percaya total dengan tubuh ini, melepaskan segala bentuk pikiran yang justru memenjarakan kemampuan kita untuk ‘mendengarkan’ bahasa tubuh yang lain selain bahasa kata-kata yang dikeluarkan oleh pikiran, memang ini tidaklah mudah, karena pikiran menggunakan bahasa yang sama dengan bahasa yang kita gunakan sehari-hari, sedangkan bahasa tubuh yang lainnya, tidak ada kurikulum yang pasti, kita tidak tahu kapan ‘ujian’ dan kapan lulus ataupun kapan naik kelas. Tidak ada ‘liburan’ diantara semester nya. Tidak ada memori muka-muka guru bahasa tubuh. Yang ada hanya sekolahan bahasa pikiran. Bagaimana dengan bahasa hati? Pernahkah kita makan sekolahan untuk bahasa hati? Ya, mungkin pernah, saat kita menyadari kapan kita merasa marah, senang, sedih, kecewa, patah hati, cemas, kawatir, dll.

Tapi pertanyaan selanjutnya adalah, kapan terakhir kali kita benar-benar sadar dengan apapun yang kita rasakan? Sebagian besar dari kita begitu lihai untuk langsung ‘lompat’ ke tahap ‘merespon’ terhadap apapun yang kita rasakan, tanpa mencoba menyelami keberadaan ‘rasa’ itu dengan benar-benar merasakan. Jangan-jangan yang kita sadari selama ini sebagai ‘rasa’ adalah justru ‘respon’ nya semata. Seperti ngomel-ngomel saat marah itu hadir. Kita baru sadar kalau kita sedang merasa marah saat mengeluarkan kata-kata kasar dan omelan. Atau menangis meraung-raung saat kita merasa sedih, kita baru sadar kalau merasa sedih saat kita bersimbah airmata. Atau tersenyum puas atau tertawa terbahak-bahak, adalah respon yang sangat cepat terjadi pada tubuh saat kebahagiaan kita sadari sedang nemplok di hati. Atau mungkin respon dengan cepat mengambil obat sakit kepala saat rasa sakit mendera hati, ya hati, saya tidak sedang salah ketik. Sakit kepala adalah bisa jadi merupakan respon pertama dari tubuh saat mungkin saja rasa sedih, tidak enak, kawatir, sedang mendera hati. Namun kita tidak cukup pintar untuk mencerna bahasa hati. Boro-boro bahasa tubuh. Yang ada satu-satunya yang kita mengerti adalah bahasa pikiran ‘wah, sakit kepala, minum obat sakit kepala biar sembuh’. Dan ‘sembuh’lah kita. Padahal dengan hanya mampu menyadari saja bahwa kesedihan, rasa tidak enak, maupun kawatir tadi benar-benar ‘ada’ bersama kita saja, dengan mengijinkan dia ada saja, kita pun mengijinkan kesembuhan bergerak sendiri untuk kita. Tanpa obat sakit kepala.

Ini hanyalah sekilas tulisan untuk berbagi dan merenung sejenak, sedalam apa kita mampu melepaskan segalanya, tulus dan pasrah atas apapun kenikmatan yang kita rasakan disetiap momen dalam hidup, semua adalah pemberian dari Nya.
Setiap kali saya mendengar orang berkata ‘saya pasrah saja’ atau ‘semua saya terima dengan tulus’ atau ‘saya ikhlas menerima karena Tuhan’ disanalah menurut saya batasan kemampuan diri dengan sendirinya terbentuk dan kepasrahan jadi begitu dangkal maknanya. Setidaknya untuk saya, pasrah tidak dapat tersentuh oleh bahasa kata-kata, ia hanya ada untuk dilakukan dengan sepenuh hati, segenap pikiran dan sekujur tubuh.

Dan rasa sakit adalah rasa belaka, sama dengan rasa-rasa lainnya yang mampir nemplok dihati sebentar saja, sebentar memang sangat subyektif, tapi yang pasti ia akan berganti, hanya dengan mengijinkannya ada bersama kita. Untuk memandang dan menyadari hidup kita secara lebih baik dan jelas.

Diri, membutuhkan kesabaran dan kepercayaan

‘Apakah engkau cukup sabar untuk menanti
Sampai pikiranmu tenang, dan air menjadi jernih?
Tahankah engkau untuk tetap tak bergeming
Sampai tindakan yang benar datang dengan sendirinya?’
Buddha, Dhammapada.

Minggu, 22 Maret 2009

pasrah

Sayang,
Aku sudah lupa bagaimana dulu jatuh cinta dan dihargai
Sayang,
Terlalu lama untuk tahu lagi rasanya dicintai

Kini, kepasrahan total yang mengajariku
Bagaimana merasa siap untuk mencintai
Kini, ketulusan hati yang mengajariku
Bagaimana rasanya pasrah untuk dicintai

Aku hanya tahu kalau aku patut
Memasrahkan apapun yang pantas aku rasakan
Menyerahkan segala rasa takut
Memasrahkan saja kemanapun kaki ini berpijak

Menunggu dan menanti
Apapun yang ku langkahkan
Dan aku sudah tahu pasti
Bahwa diri ini takkan berpaling

Dari segala rasa dan pikiran sementara
Dari cinta, nafsu, akal dan semua
Untuk apapun yang datang dan yang pergi
Yang perlahan ataupun tiba-tiba..

Karena hanya Engkau yang setia
Melihat dan mengamati dari ruang sana
Bahwa aku baik-baik saja
Dan membawa diri ini ke lembah nirwana….

Senin, 16 Maret 2009

sungai itu...

Sungai itu….

Indera ku mendadak menajam, telinga ini di manja suara deburan, yang tak habis-habis dan semakin dekat saja rasanya..

Inderaku yang lainnya tertegun tak berkedip, ada baiknya membiarkan telinga terngiang suara deburannya saja berhari-hari..hingga kesabaranku berbuah manis sekali. Proyeksi pemandangan di depan mata ku..membuatku menitikan airmata.

Aku meleburkan hati ku pada cinta…


Sepulang dari sungai itu…

Semua menjadi nyata dan ikhlas ku dibuatnya. Sungguh.

Telapak kaki ini benar-benar tak pernah lepas dari hatiku.
Kemanapun aku menapak berjalan di permukaan dasarnya, disanalah hati ku berada
Jauh di permukaan dasarnya, jauh di terpaan air nya yang deras. Turun jauh kebawah sana, semua rasa, semua pikiran.

Kadang menajam, kadang pasir lembut, kadang pelan, kadang terhempas, hampir-hampir hilang pijakan dan terseret derasnya air. Aku tetap disini. Hadir dan percaya dengan pijakan ku berikutnya.

Bahwa ke ikhlasan tak sekedar kata yang seringkali dibuat untuk menjadi satu tujuan
Namun sedalam rasa. Sedalam sayatan batu tak terlihat di bawah pijakan telapak kaki ini
Sekuat dorongan air yang menghujam tubuh dan dibuat tak berdaya, hanya berpegang pada akar pohon yang baru kukenal saat itu, dan berpegang pada batu berlumut licin yang sebelumnya tak kusadari ia ada didekatku.

Ikhlas bukan kata

Hanya bagian sayatan dan sentuhan lembut di dasar telapak kaki ku
Untuk selalu percaya, kemanapun kaki ini melangkah

Keikhlasan tak akan ada tolok ukurnya

Sampai mati.

Minggu, 15 Februari 2009

zero point

Aku mengaguminya. Aku mengenalnya bertahun-tahun sudah. Sungguh sulit menggambarkannya dengan kata-kata logis dan gamblang. Melihatnya saja sudah keluar dari batas logis ku. Semua seperti mimpi, bertemu dengannya adalah mimpi yang dipilihkan alam untuk ku. Aku bukan apa-apa. Aku begitu naïf dengan arti kehidupan. Makna yang ku dapat saat ini adalah hasil pilihan alam yang diberikan kepadaku. Takdir. Kebetulan. Keberuntungan. Yang membuatku tak mampu menuntut jawaban dari semua pertanyaan. Yang membuat ku tak mampu untuk menuntut penjelasan logis atas semua yang terjadi. Dia ada. Entah dari mana. Membuatku merasa lebih kaya. Bukan kaya akan kuantitas perolehan hidup. Bukan itu. Tapi kaya dalam duniaku yang lain.

Pantas saja aku merasa dekat dengannya. Entah mengapa dulu begitu enggan kulepaskan. Kini aku tau ada jawabannya. Walaupun aku tak tahu pasti apa jawabannya. Selangkah demi selangkah aku hanya baru menyadarinya. Dan aku sudah sanggup melepasnya…..dengan sedikit remah-remahnya pun aku sanggup menikmatinya hingga waktu yang tak terbatas.

Aku bukan apa-apa baginya. Aku merasa tak pantas untuk menulis. Tapi kupaksakan. Entah jadinya apa. Aku hanya yakin untuk membiarkan semua. membiarkan diri, membiarkan jarak, membiarkan hati, membiarkan rasa, membiarkannya agar tetap seperti apa adanya. Saat aku menerima. Seperti saat aku menemukan. Seperti saat aku menikmatinya.

Aku penikmat kekosongan. Aku hanya mampu mencium keharumannya, tanpa kujamah sedikitpun. Seperti juga aku hanya mampu menyentuh lekuk hembusan nafasnya, tanpa kugenggam regangan tubuhnya. Hanya satu indera yang kugunakan untuk mengindera nya. Aku bahkan tak mampu membayangkan keindahannya saat kugunakan seluruh indera tubuhku. Untuk merasainya, aku berkata ‘cukup’ karena semuanya sungguh indah untukku. Hanya satu indera saja.

Aku mengaguminya. Aku menangis. Menangis bukan karena kepedihan, menangis bukan karena kebahagiaan. Hanya karena keindahan alam untukku lewat dirinya. Aku tenggelam dalam airmata ku. Melewati batas kegusaran jiwa. Menembus sosok bercahaya dalam mimpi sadarku.

Dia tak pernah datang untuk meminta, dia tak pernah menatapku untuk berharap, dia tak pernah ada untuk menilaiku. Dia hanya ada. Ada sejak beberapa tahun silam. Saat aku masih terlelap.

Dia bagaikan pintu yang terbuka dan menggoda untuk memasukinya. Bagaikan candu yang tak sengaja kuhirup dan menarikku dengan gemulai. Bersenandung irama rindu akan hidup. Pangkal kehidupan, jalan kehidupan, dan akhir segalanya. Dialah candu dan aku gundiknya. Dialah hidup dan aku nafasnya. Dialah rahim dan aku spermanya. Dialah Tuhan dan aku pendeta. Dia mencari Tuhan dan aku mencarinya. Kedalam ruang batinnya, begitu indah, membuatku menangis, sekali lagi menangis. Aku takkan mampu memberinya bahagia, karena kebahagiaan sendiri telah menjadi miliknya. Dia telah ada sejak dulu, namun aku tak merasa kehilangan waktu untuk merasainya.

Inilah saat jiwaku kosong. Dia mengajariku. Menikmati kekosongan dengan cara yang sama sekali berbeda. Bahkan kosongpun menembus kesempurnaan saat duduk disampingnya. Saat kegalauan jiwa begitu penuh sesak dalam batinku, dia ada untuk rasa kosong ku.

Hidup bagaikan pendulum yang naik dan turun, jauh kekiri dan terlempar kekanan, melewati titik terendah, membalik dititik tertinggi. Titik nol. Aku menikmatinya. Bahkan kutemukan keseimbangan sepenuhnya. Kadang melambat kadang bergulir cepat. Terus berubah. Dihujani angin kencang terkadang lambaian lembut.

Namun saat-saat di Titik nol ia ada dan memenuhi dinding kosong. Saat energi terkuras habis dan alam siap me-reload-nya kembali, perlahan hingga penuh dan terlempar kembali. Hanya sesaat disanalah dia berdiri. Memegangi kenikmatan harfiah dan merubahnya menjadi tetes embun yang menyejukkan. Menyirami jiwa yang kosong. Aku memejamkan mata, menghirup nafasnya dan bermandikan peluhnya. Total dan netral. Kosong dan padat. Hidup dan mati. Hina dan sakral. Nol.

Dan ia mengajariku, tanpa menilai, tanpa meminta, tanpa berharap. Ia begitu penuh saat kosong menghampiriku. Sehingga aku mampu bernafas dalam hampa.. Tak perlu aku menggantungkan jiwaku padanya. Cukup hanya sesaat. Karena tanpa nya justru aku penuh dan ada nya justru membuatku kosong. Nol. Dan hidup.

Kamis, 12 Februari 2009

Saat yang tertinggal hanya gelap

Saat semua yang tertinggal hanyalah gelap, sebenarnya agak bias antara kosong dan penuh. Tiba-tiba aku punya kesulitan untuk membedakannya.

Kesulitan ini bukan kesulitan yang menyusahkan. Bukan kesulitan yang mengganggu. Bukan juga kesulitan yang menyiksa sampai aku merasa ingin lari darinya.

Kesulitan ini kesulitan yang paling teramat baik yang pernah aku rasakan, jadi sangatlah mudah untuk aku terima sepenuhnya. Aku amati dengan seksama, hingga rasanya pelaaan sekali dan makan waktu.

Ini hal baru.

Beberapa waktu lalu, satu hal yang hampir serupa dan mirip sekali dengan yang pernah terjadi beberapa tahun lalu, terjadi lagi. Caci maki dan hinaan dari satu orang lain lagi membuka mataku sampai sejauh mana berjalan menjelajah diri.

Di satu sisi aku ‘berhasil’ mengamati rasa marah, sakit dan sedih. Seperti tontonan saja. Menyadari saja apa rasanya. Menyadari saja respon tubuh atas rasa campuran ketiganya. Di sisi lain aku merasakan sepenuhnya dan total membiarkan tubuh gemetar, jantung berdebar, mual dan pening seharian penuh, terkadang ingin meracau, terkadang keluar sumpah serapah, aku biarkan..hidup dengan diriku apa adanya, apa maunya. Seperti ada ‘komunikasi’ nir kata antara aku dan aku yang lainya. Apa Alam sedang ‘berbicara’ lewat aku dan membiarkan aku lainnya untuk merasakan dan membiarkan semua. Entahlah.

Tapi ada yang menarik..Ada yang lain..hanya satu yang stabil, seperti tak bergeming sama sekali, seperti autis didunia nya sendiri, seperti tak terpengaruh, untouchable, memberi hidup, memberi asupan gizi pada jiwa untuk ‘mengamati’, bensin untuk tetap ‘eling’….nafas ku konstan. Disaat yang sama, detik yang sama, dibalik semua respon tubuh dan perasaan yang jungkir balik, aku ‘tahu’ aku baik-baik saja karena semua akan hilang dan berganti. Dan hanya nafas ini yang setia..dan ada. Alam telah memperlihatkan Dirinya lewat nafasku. Dia dekat. Dan aku baik-baik saja.

Sejauh ingatan aku atas hal serupa yang pernah terjadi beberapa tahun lalu, aku saat ini adalah aku yang totally berbeda. Aku saat ini jauh lebih ‘hidup’ dan lebih siap menghadapi ini, semoga memang siap menghadapi perubahan apapun.

Antara racauan dan tontonan tadi, aku tidak menemukan satu pun ruang untuk ‘penyimpanan’. Disatu sisi sudah disapu bersih oleh nafasku lewat kesadaran untuk mengenali setiap rasa dan respon tubuh dengan mengamati. Dan di sisi lainnya pun sudah disapu bersih oleh pergumulan rasa dan respon tubuh yang kubiarkan hingga selesai, tanpa lari darinya, tanpa menolak sedikitpun, hanya mengikuti gerak dan apa maunya saja. Walaupun untuk melakukan ini aku membutuhkan ‘ruang dan waktu’ untuk sendirian seharian tanpa berinteraksi dengan apapun dan siapapun hingga aku merasa ‘selesai’ dan kosong tapi sekaligus penuh dalam waktu yang sama. Tapi belum tahu juga bagaimana ‘mengecek’ apa memang benar2 tidak ada yang disimpan lagi atau masih ada tumpukan sampah dari kejadian ini.


Setelah hari itu sejujurnya aku belum melakukan perenungan apapun, belum melakukan bentuk meditasi apapun. Lagi masa bodo, malas dan hanya menjalani hidup, santai sekali. Sampai tadi malam.

Rasa yang kosong tapi sekaligus penuh. Instruksinya adalah, rasakan setiap momen sebagai hal yang baru. Aku merasakan ‘hadir’ sepenuhnya disana. Setiap detik, menit berlalu satu-satu, rasanya penuh, total ada disana, sejauh ingatan ku saat ini, tidak ada splash memori hal-hal yang sudah lewat, dan tidak ada ‘monyet’ berkeliaran. Dan gong nya adalah, bahkan tidak ada pertanyaan usil satupun dari pikiran ku untuk bertanya ‘lho kok kosong begini’. Tidak ada apa-apa, yang tidak ada apa-apa. Tidak mengharapkan apa-apa, bahkan tidak mengharapkan tidak ada apa-apa. Tragisnya tidak berharap sama sekali. Ini kosongnya.

Dan penuhnya adalah layar gelap tanpa ‘film’ apa-apa, benak dan pikiran yang kosong, kesadaran yang penuh, jantung sebagai generator dan nafas sebagai solarnya. Sisanya ‘mati lampu’ tapi ‘menyala’…begitu lah.

Aku tahu ini bagian penjelajahan diri yang belum selesai. Tapi kata-kata ‘terima saja’ dan pasrah..punya cicipan yang berbeda tadi malam.

Pasrah yang total, sampai pasrah sama rasa pasrah yang paling aku tahu selama ini, sampai sampai bahkan tidak ada keinginan untuk pasrah sedikitpun. Pasrah yang baru, pasrah yang lebih pasrah dari cara pasrah yang aku tahu, tidak ngapa-ngapain lebih dari tidak ngapa-ngapain yang aku tahu. Kesadaran yang aku rasain tadi malam rasanya seperti cicipan baru. Detik dan menit sudah tidak ada ‘harga’ nya.

Dan setiap potongan, irisan, cincangan bahkan partikel terkecil dari cicipan baru ini begitu aku nikmati dan rasanya aku total ada dan hadir disana dari # ke #....aku ambil symbol # untuk menggambarkan satuan yang lain dari waktu yang kita kenal. Ini lebih berasa ‘ada’ dibanding hitungan detik, menit bahkan 20menit tadi malam. Rasanya kira-kira banyaknya # yang aku lalui melebihi 20menit dan kira-kira setara dengan 1jam waktu bumi…

Terima kasih Alam, untuk meditasi ku tadi malam. Untuk hidupku.

Minggu, 18 Januari 2009

surat untuk biru

Halo biru..
Aku menulis untukmu..

Aku kangen sampai sesak nafas dan kepingin mati
Siapa tahu bisa hidup lagi pada masa itu dan kita bersama lagi

Tiga dekade sudah ku lalui disini
Jangan kau salah paham, aku sangat senang diantara peradaban ini
Tapi setelah melewati nya aku baru saja tersadar selama 2 tahun kini
Bahwa aku begitu terlena dengan keindahan semu, harapan dan mimpi
Hanya untuk tersakiti

Aku rindu saat-saat menatap jiwa yang bersih dari basa-basi
Dari mata bagai gerbang jiwa yang senantiasa naif dan begitu alami
Aku rindu akan keikhlasan yang memancar indah dari setiap diri
Kebebasan yang menembus batasan hidup tanpa perlu terobati
Saat menyadari bahwa tiada yang abadi

Aku rindu saat-saat etika lebih punya suara
Dibandingkan dengan tulisan-tulisan yang mengaku dariNya
Aku rindu akan begitu besarmya makna kesunyian diri
Dibandingkan hingar bingar ketamakkan, kebencian dan iri hati

Bagaimana kabar sahabat-sahabat kita disana?
Apakah kemuning masih menulis dongeng?
Aku ingat tulisannya lebih mirip curahan hati dibanding fiksi
Indah sekali..
Indigo masih suka bermain petak umpet?
Apa dia sudah sadar bahwa tak perlu mencari diruang lain karena begitu banyak yang dapat ditemukan diruang diri?

Aku ingat saat-saat memutuskan untuk menyelam lebih lama dan terlahir di abad ini
Aku ingat, kau-lah biru, yang berjanji akan memperbaiki jarum kompasku dan mengirimnya kesini
Dan sekarang kutagih janjimu, kirimi aku bagaimanapun caranya
Bagaimana mungkin kau ingkari, karena yang kutahu disana kita tak kenal kata ingkar

Ya..disini banyak sekali kata-kata yang berusaha menggambarkan rasa
Seperti yang dulu seringkali kita dapatkan dalam buku sejarah tentang abad ini
Sebelum kata-kata itu hilang musnah termakan jaman dan usia
Dan menjadi benda bersejarah yang terpajang dalam museum di pusat kota

Aku juga rindu museum pusat kota
Tempat kita ngobrol ngalur ngidul bersama
Disanalah kata-kata itu tak lagi begitu bermakna
Hanya seonggok benda untuk diamati saja
Tanpa bisa disentuh jadi tak lagi berbahaya

Ya..hanya diamati saja.
Dan kau tahu biru? Baru 2 tahun ini aku tersadar diri
Bahwa aku hidup diabad saat kata-kata yang menggambarkan rasa begitu lekat dengan hati
Hati ku turut bermakna saat rasa itu membanjiri jiwa
Benci, dendam, takut, sedih, marah, senang, cemburu, tamak dan cinta

Kau disana hanya mampu mengamati semuanya
Sedangkan aku disini mampu merasakan sepenuhnya
Inilah yang waktu itu pernah kita bicarakan
Saat kepunahan suatu peradaban tak mampu kita lukiskan

Aku menyuratimu biru..
Entah dengan apa harus kukirim surat ini untukmu
Disini orang-orang menulis dengan simbol-simbol ditekan
Dan semakin hilang saja keindahan seni tulisan tangan

Dengarkan biru..
Negri dimana dirimu berada dan dulu aku berada
Adalah negri tanpa luka menganga
Mampu memilih untuk menjadi diri apa adanya
Dan disanalah seharusnya kamu berada
Begitu juga kemuning, indigo, putih gading, lembayung dan semua

Akulah yang akan terus mencari
Jangan lupa ya kompasku untuk diperbaiki
Kapan-kapan akan kukabari lagi

Salam hidup

Dari Jingga, 2009.

Selasa, 13 Januari 2009

seribu kata

Malam itu
Mata kita saling memandang
Walau duduk bersebelahan dan tidak berhadapan

Malam itu
Terungkap semua alasan
Dari ucapan seribu kata lirih penuh keraguan

Aku hanya diam
Menunggu kata selanjutnya, seribu kata lagi
Kamu tidak diam
Meminta jawaban dari seribu kata yang tadi

Nafas ku melambat satu-satu
Entah apa yang membuatku bagai sehelai kain sutra yang ringan
Satu nafas untuk tiga detak jantungku
Tubuh ini bagai pertunjukan yang kunikmati dari kejauhan

Kamu terus memandangku dalam jeda bicara
Sepi seperti angin numpang lewat dan kita sendirian
Tatapan nanar mu memecah sunyi menjadi asa
Harapan atas pengertianku terus kamu panjatkan

Kamu kecewa. Teramat dalam hingga seribu kata itu mengalir deras
Aku kecewa. Teramat dalam hingga hati mati rasa dan air mata kering terkuras

Tak sadar diri ini bagai duduk sendiri
Tanpa ada kamu menghangatkan udara di ruang ini
Kita berbagi oksigen tanpa berbagi kata
Menembus kegelisahan yang merintih tanpa suara

Sampai di satu detik kamu tak sabar lagi
Pindah duduk dan berhadapan, bersimpuh sebatas pandang mata
Hingga kamu kunci pandanganku dan tak bergerak lagi
Masih dengan harapan akan derasnya aliran dari seribu kata

Aku tak bergeming, kamu pun berteriak
Sampai jantungku bergejolak
Satu nafas satu detak
Tapi tetap tak terucap bahkan tak satu kata dari seribu yang kamu harapkan

Kembali kunikmati nafas dan detak tubuhku
Kembali aku tak peduli
Dan kamu putuskan semua asa mu
Untuk berdiri dan pergi

Sesaat aku terganggu dengan pemandangan ini
Jangan berdiri, aku mohon kamu sudahi keraguan diri
Tapi kamu tetap berdiri, berjalan dan pergi
Aku menoleh dan punggungmu adalah pandanganku kini

Gerakan bola mata ku begitu cepat entah kenapa
Meneteskan setitik air disudut mata
Dan…..‘aku mencintaimu’….meluncur begitu saja.
Melebihi makna seribu kata.

Jumat, 09 Januari 2009

lost n found

Mendapatkan – melepaskan
Memiliki – kehilangan

Tiba-tiba saja saya teringat sosok seseorang. Kediamannya di kaki gunung dan mencari nafkah turun ke kota, mengajar yoga dan kembali pulang. Sangat sederhana

Dia pernah berkata, “biarkan saja, kalau sudah bukan waktunya jadi kepunyaan saya, ya sudah, mau apa lagi?, nanti akan ada lagi yang datang, menggantikannya, kadangkala bisa lebih, lebih bagus, lebih banyak. Kadang juga ala kadarnya. Entah dengan cara apa dan bagaimana, beberapa waktu menjadi kepunyaan saya. Sebentar atau lama, itu tak masalah, hanya masalah waktu. Toh apapun yang ada dalam hidup tak ada yang selamanya. Akan berakhir, berubah, berganti. Terus begitu. Dijalani saja, nikmati saja. Kebahagiaan lebih mudah dicicipi”

Sekilas ada nada kepasrahan dan kesan gampang menyerah, tapi rasanya saya mendapatkan kekuatan yang penuh secara bersamaan. Energi keikhlasan yag luar biasa yang mengalir dalam kata-katanya. Ia terdengar begitu lemah dan begitu kuat dalam waktu yang sama.

Betapa mudahnya menjalani hidup, betapa bahagia yang sempurna dan benar-benar original dapat dirasakan apabila kita mampu menerima dan melepas sesuatu tanpa menggenggam/ terjerat dalam cengkeram rasa ‘kepemilikan’. Apapun bentuknya.

Contoh lain adalah counter lost and found di bandara atau di mall atau di tempat umum lainnya. Lost adalah kehilangan. Found adalah ditemukan, didapatkan (kembali). Yah.kembali kedalam euphoria semu yang semakin mempererat jeratan rasa kepemilikan pastinya. Counter ini ternyata bukan ide yang baik untuk mendidik kita mempertebal rasa ikhlas, pasrah dan menerima rasa kehilangan yang nyata. Namun apabila suatu barang dinyatakan hilang lalu ditemukan kembali, mungkin bisa dikategorikan ‘masih waktunya’ kepunyaan pemiliknya. Tapi rasanya hanya makin mempertebal rasa kepemilikan sekaligus mempertebal rasa kehilangan saja pada akhirnya. Jadi Lost dan Found..adalah 1 titik yang sama, dua kata yang punya rasa sama. Saat kita kehilangan sesuatu disanalah kita menemukan kepasrahan. Saat kita merasa menemukan sesuatu, bersiaplah untuk menghadapi kehilangan.

Sekilas kita akan merasa bahagia, saat mendapatkan sesuatu menjadi ‘milik’ kita. Tapi dibaliknya… disaat itu kita merasa memiliki, di detik yang sama tersembunyi rasa kehilangan yang menjadi satu paket tanpa kita sadari. Sesederhana itu, tanpa bisa mengelak, tanpa bisa dihindari, dan rasa kehilangan itu akan keluar pada saatnya nanti. Ya dia akan keluar, dijamin.

Terkadang dalam satu paket itu, kita memang belum tahu apa isi keseluruhannnya. Malah banyak sekali dari kita yang tidak menyadarinya sama sekali dan hanyut oleh sukacita me’milik’inya. Atau mungkin malah pura-pura tidak tahu, atau bisa juga tidak peduli, bahwa apapun yang kita miliki akan ada batas waktu kadaluwarsa nya. Bisa hilang, lepas, pergi, rusak, habis, mati atau berhenti jadi milik kita dan menjadi milik orang lain. bagaimanapun caranya, apapun penyebabnya.

Sebut saja..apa sajalah. Barang apapun yang kita miliki akan ada batas waktu sampai rusak, hilang, habis, dipinjam orang dan tak kembali, diambil orang, dicuri, apapun. Begitu juga dengan uang. Uang datang dan pergi, sebesar apapun yang datang akan pergi juga pada waktunya, biarpun ditabung, biarpun nanti jadi warisan, apapun, intinya tak selamanya uang tersebut kita miliki, pun tinggal masalah waktu. Kapan rasa kehilangan itu akan keluar, kapan saatnya? Kita pun tak tahu. Semua masih tersimpan dalam paket.

Melepaskan dan kehilangan memang hampir sama, hanya rasa-nya saja mungkin yang berbeda. Melepaskan lebih diwarnai dengan rasa pasrah dan Kehilangan seringkali lebih didominasi oleh rasa sakit. Walaupun memang tidak semua kehilangan disertai rasa sakit, atau mungkin kadarnya bisa berbeda-beda, tergantung dari rasa memiliki yang kita rasakan terhadapnya. Semakin besar rasa memilikinya, apapun itu, maka semakin besar juga rasa kehilangan yang timbul pada akhirnya.

Bagaimana dengan hubungan? Sama saja, putus, cerai, perpisahan, baik-baik ataupun tidak, bahkan kematian, semua akan selesai, kehilangan, melepaskan, bagaimanapun dengan cara apapun. Namun terkadang kita tidak sesiap saat kita menerima, mendapatkan ataupun memilikinya. Rasa sakit yang mengintai sejak awal, terkadang membuat kita kaget, walaupun sebenarnya kita sudah tahu bahwa manusia pun tak luput dimakan usia.

Jadi sebenarnya ada baiknya untuk menyadari sejak kini bahwa apapun yang kita miliki akan hilang, lepas ataupun pergi, mungkin ini akan membantu kita untuk overcome rasa sakit yang timbul, dengan tidak terlalu merasa bahwa apapun yang kita miliki saat ini adalah untuk selamanya. Atau bisa juga menhilangkan euphoria yang berlebihan saat merasa mendapatkan, menerima atau memiliki sesuatu. Atau yang lebih hmm beriman dapat mempertebal rasa ikhlas dan menerima ‘takdir’ dengan lapang dada dan besar hati.

Namun dibalik semua ini, yang membuat segalanya terasa menjadi berat adalah waktu. Dalam beberapa bagian kedepan, ‘waktu’ akan menjadi target cacimaki saya. Sebagai ‘tertuduh atau tersangka’ atas semua rasa sakit yang diderita oleh seluruh umat manusia didunia. Terkadang kadar rasa sakit akibat melepaskan dan kehilangan sesuatu / seseorang ditentukan oleh waktu. Bayangkan semakin lama kita memiliki semakin sakit pula rasanya saat kehilangan. Dan bagaimana kita tidak merasa memiliki kalau waktu tidak menyediakan kita waktu yang cukup banyak dan panjang untuk merasa mengenal seseorang atau sesuatu sebelum akhirnya mendapatkan atau memilikinya. Kebutuhan manusia pun selalu ditentukan oleh waktu, sejalan dengan waktu kebutuhan kita bertambah dan bertambah, dan mengakibatkan kita begitu merasa perlu memiliki ini itu berdasarkan kebutuhan kita. Bayangkan kalau tidak ada waktu, apa kita merasa butuh ini itu? Apa kita merasa perlu untuk memiliki ini itu, membelinya, menggunakannya, hanya untuk kehilangan? Sungguh waktu memang kejam, tak beri ampun sedikitpun atas rasa kehilangan yang kita derita. Malah terkadang waktu juga terus menerus menyiksa kita dengan waktu yang panjang untuk merasakan kehilangan tadi. Berbulan, bahkan bertahun, rasa sakit masih bertengger karena kehilangan.

Biarpun begitu, ia memberikan kita waktu untuk sembuh. Time will heal. Yeah right, itu mungkin hanya cara waktu minta maaf pada kita. Kita dipermainkan oleh waktu. Dengan begitu waktu bisa dipandang bagai pahlawan penolong dan menghilangkan rasa sakit akibat kehilangan. Wait! Meng’hilang’kan rasa sakit. Bahkan rasa sakit akibat kehilangan pun akan hilang, pergi dan lepas. Waktu memang hebat. Ia bisa menggenggam rasa dan hidup dalam setiap nafas manusia. Tapi cukup. Cukup sudah caci maki atas waktu. Manusia juga punya rasa. Persalahkan itu saja. Biar adil.

Manusia tanpa rasa, bukanlah manusia. Namun terkadang kita lupa apapun rasa yang ada hanyalah permainan hati, 1 belah pihak saja, dimana pikiran? Dimana jiwa? Sampai dimana kesadaran kita akan semua ini, apabila hanya berpihak pada hati. Rasa yang kita miliki pun juga akan pergi, sama saja, seperti barang, uang, hubungan dengan orang lain, apapun. Begitupun rasa, saat rasa bahagia, sedih, marah, haru, bisa datang dan pergi, bisa didapatkan dan dilepaskan, dimiliki dan hilang. Dengan waktu berjalan

Jumat, 02 Januari 2009

waktu

Kehabisan waktu, Tidak punya waktu, Time’s up!,
Masih banyak waktu, Waktu menunggu, Kehilangan waktu, Waktu demi waktu,
Batas waktu, Jatuh tempo, Ulang tahun, Tahun baru, Malam, Sore, Pagi, Kemarin..

Begitu banyak patokan-patokan waktu yang kita kuasai
Hidup dengan identitas sederet angka dalam ukuran waktu
Mati karena waktu yang terus berjalan tanpa ampun

Waktu bahkan tak pernah menoleh saat kita terjatuh
Waktu bahkan tak pernah sedetikpun berhenti saat ada sedih, gembira maupun haru.

Begitu sibuk kita berusaha melawan
Begitu sok akrab kita mencoba berteman
Bahagia saat merasa waktu berpihak
Sedih saat waktu meninggalkan tanpa jejak

Waktu hanya ada
Bagai karpet panjang yang dihamparkan Tuhan
Kadang naik kadang turun
Tak berawal dan tak berujung

Waktu sang maha
Bagai tangan Tuhan yang dibentangkan
Kadang membelai kadang juga menampar
Kadang tertutup kadang begitu terbuka

Waktu bukan teman
Juga bukan lawan
Hanya kendaraan
Bagi jiwa yang terus terbang
Dari pucuk ke dahan
Menyebrang antar batang
Pada pohon-pohon rindang
Menembus kesunyian belantara hutan
Dalam kehidupan

Manusia tak lebih dari bentuk lain miniature waktu
Dari sel yang paling kecil hingga kemampuan yang tak terhingga
Yang bernafas dalam sepenggal waktu
Diatas karpet yang tak lebih panjang dari 1meter saja
Dari lahir hingga mati
Dan jiwa terus terbang
Hanya remah remah serpihan waktu
Sendiri, Lahir, Hidup, Mati.

please, do have a piece of cake..

“Mari dinikmati kuenya
Jangan malu-malu lho
Dinikmati saja
Maaf ya kalo ga terlalu enak
Semua bahannya special lho
Ayo diambil piringnya
Saya ambilkan ya kuenya
Dihabiskan lho..” (waktu)
J

Manusia hidup bagai menikmati kue
Sepotong sepotong
Kue yang tak pernah habis dibagi dalam hitungan waktu
Namun habis dimakan tak tersisa
Lahir sepotong
Mati tak bersisa
Hanya piring yang siap menerima potongan kue lainnya
Selalu lapar dan tak pernah kenyang

Tapi..
Kita bukan potongan kue
Mari berganti peran dengan hidup sebagai kuenya
Dan kita adalah piringnya
Kue nya pun kadang enak kadang basi dan asam

Waktulah yang membagikan kue..
Tuhan lah yang membuat kue dan menyiapkan piring-piringnya

Whose turn is it to wash the dish?
Let me do it..!
Before I take another piece
Before I take another bite

Hmm..yummy..

Kamis, 01 Januari 2009

mimpi

Tak sebersit pun sinar menghujam mimpi
Takut dan hilanglah yang silih berganti
Bertemu pengganti malam dibatas hari
Berpisah dengan gemuruh hati saat mentari

Dan doa yang merintih tak berhenti
Meminta kusudahi semua hidup dan sendiri
Hingga batas tawa dan tangis tiada lagi
Namun sinar segarispun tak menghujam mimpi

Kembali, berganti, berhenti, dan bermimpi lagi

Dunia yang sarat halusinasi
Bertepuk tangan tak kudengar bunyi
Merampas angin dan tak menyentuh diri
Menahan sesak dan tak mampu berdiri
Terpeleset pasrah dalam jurang yang tinggi

Hingga nafas satu persatu hilang pergi
Di penghujung gelisah yang tiada habis menanti
Saat saat indah yang terbawa mati
Hilang ditelan kemurkaan ke bawah bumi
Tak mampu dan kelu terucap ampun pada ilahi

Terbangun dan rindu pada pagi hari
Ku tak ingin bermimpi lagi
Ku ingin selalu terjaga diri
Malam, ampunilah aku, keluarkan aku dari alam ini

Kembali, berganti dan berhenti bermimpi

Tak mampu kuhentikan malam, menanti sang pengganti hari.

Januari 07

menunggu untuk pulang

Seperti di halte trans hidup ini,
Berdiri diam didepan pintu,
Antri bersama orang lain yang menunggu bis trans tiba,
Namun saat pintu terbuka aku memejamkan mata menikmati hawa sejuk dari dalam bis,
Kadang terhempas oleh tubuh-tubuh yang meninggalkan bis trans maupun tubuh-tubuh yang ingin memasukinya.

Tapi aku tetap tinggal, berdiri diam didepan pintu
Hingga pintu menutup lagi dan bis berjalan pergi
Terus begitu setiap kali.

Saat letih tiba, aku meninggalkan halte dan berjalan terhuyung kembali ke rumah
Bersatu dengan segala macam warisan cinta

Namun menit-menit keheningan kembali menyemangati ‘kepergianku’,
Dan tibalah saat aku kembali ke halte trans,
Mengulang hari.
Menikmati hawa sejuk dari dalam bis,
Memejamkan mata,
Sekali lagi, tanpa bergeming, berdiri saja, sudah nikmat rasanya,
Untuk sekedar merasakan,
Bahwa aku hendak ‘pergi’…..

Halte trans.
Dimana semua orang berkerumun sesak,
Namun tak satupun peduli.
Masing-masing berdiri, bersentuhan beberapa detik, lalu terpisah lagi.
Bagaikan tanpa hati, hanya tersenyum dan kembali tak peduli.

Ada juga yang berkelompok
Bersenda gurau
Untuk berpisah entah di halte yang mana

Mereka tak perlu berkata kemana,
Mereka hanya tahu satu sama lain hendak kemana.
Tapi hanya dalam hati, tak perlu berucap.
Toh dalam perjalanan tak ada yang tahu dihalte mana mereka akan berhenti,
Toh dimana mereka berhenti pun tak ada yang peduli.

Kaki ini begitu berat melangkah,
Begitu enggan masuk ke dalam bis.
Padahal hanyalah itu saja cara,
Untuk merasakan hawa sejuk didalam bis yang langsung bersentuhan dengan tubuh ini.

Namun aku memilih diam.
Didepan pintu bis seperti biasanya.
Aku belum bosan!
Untuk terhuyung kembali kerumah.
Dan untuk kembali berdiri didepan pintu ini,
Mencicip remah nikmatnya hawa sejuk menghempas wajah ini,
Tanpa beranjak ‘pergi’.

Bis trans datang dan pergi,
Datang dan pergi lagi.
Datang dan pergi,
Datang dan pergi lagi.
Tak pernah putus.

Tiap kali aku pulang, kerumah….
Tiap kali aku siap, untuk pergi lagi…

Tiba-tiba aku letih,
Frustasi ingin pulang, entah kemana.
Menangis dalam halte
Ber-ember-ember air mata perih
Membuatku muak semuaknya akan semua tanya dan kenapa
Aku jadi enggan pulang ke rumah,
Bermalam-malam ku tetap berkeras berdiam di halte,
Hingga rasanya begitu nyaman,
Dan tempat ini bagai ‘beranda’ku untuk berpulang.

Malam ini aku meninggalkan halte untuk ‘pergi’ ke rumah..
Hingga esoknya aku kembali ke halte.
Bukan untuk ‘pergi’ lagi,
Tapi untuk menunggu……
Melangkah untuk ‘pulang’.

Semua rasa jadi berputar balik,
Saat waktu yang berjalan kuhabiskan lebih banyak didalam halte,
Sembari menikmati hidup dari hawa sejuk sesaat dari pintu terbuka,
Untuk menjemputku ‘pulang’…

Busway ini jurusan Tuhan,
Dan kubawa jiwa turut serta,
Untuk segera pulang menemuinya,
Naik bis dan Berhenti lagi,
Di halte manapun.

Memulai lagi satu chapter ‘menunggu’,
Hingga kaki sang pembawa jiwa mampu melangkah lagi,
Naik bis trans untuk pulang.
Dan berhenti lagi dihalte manapun.

Sampai jiwa tak pernah letih,
Untuk menunggu menemukannya,
Dan tak pernah lahir.
Dan tak pernah mati.
Merasakan hidup hanya dari hempasan hawa sejuk dari dalam bis trans,
Menghargai kemanapun kaki sang pembawa jiwa pergi ke rumah yang lain.

Saat diri melangkah keluar bis trans dengan kaki yang baru,
Tiba di halte selanjutnya,
Hanya untuk kembali pulang…

12/12/08