Minggu, 18 Januari 2009

surat untuk biru

Halo biru..
Aku menulis untukmu..

Aku kangen sampai sesak nafas dan kepingin mati
Siapa tahu bisa hidup lagi pada masa itu dan kita bersama lagi

Tiga dekade sudah ku lalui disini
Jangan kau salah paham, aku sangat senang diantara peradaban ini
Tapi setelah melewati nya aku baru saja tersadar selama 2 tahun kini
Bahwa aku begitu terlena dengan keindahan semu, harapan dan mimpi
Hanya untuk tersakiti

Aku rindu saat-saat menatap jiwa yang bersih dari basa-basi
Dari mata bagai gerbang jiwa yang senantiasa naif dan begitu alami
Aku rindu akan keikhlasan yang memancar indah dari setiap diri
Kebebasan yang menembus batasan hidup tanpa perlu terobati
Saat menyadari bahwa tiada yang abadi

Aku rindu saat-saat etika lebih punya suara
Dibandingkan dengan tulisan-tulisan yang mengaku dariNya
Aku rindu akan begitu besarmya makna kesunyian diri
Dibandingkan hingar bingar ketamakkan, kebencian dan iri hati

Bagaimana kabar sahabat-sahabat kita disana?
Apakah kemuning masih menulis dongeng?
Aku ingat tulisannya lebih mirip curahan hati dibanding fiksi
Indah sekali..
Indigo masih suka bermain petak umpet?
Apa dia sudah sadar bahwa tak perlu mencari diruang lain karena begitu banyak yang dapat ditemukan diruang diri?

Aku ingat saat-saat memutuskan untuk menyelam lebih lama dan terlahir di abad ini
Aku ingat, kau-lah biru, yang berjanji akan memperbaiki jarum kompasku dan mengirimnya kesini
Dan sekarang kutagih janjimu, kirimi aku bagaimanapun caranya
Bagaimana mungkin kau ingkari, karena yang kutahu disana kita tak kenal kata ingkar

Ya..disini banyak sekali kata-kata yang berusaha menggambarkan rasa
Seperti yang dulu seringkali kita dapatkan dalam buku sejarah tentang abad ini
Sebelum kata-kata itu hilang musnah termakan jaman dan usia
Dan menjadi benda bersejarah yang terpajang dalam museum di pusat kota

Aku juga rindu museum pusat kota
Tempat kita ngobrol ngalur ngidul bersama
Disanalah kata-kata itu tak lagi begitu bermakna
Hanya seonggok benda untuk diamati saja
Tanpa bisa disentuh jadi tak lagi berbahaya

Ya..hanya diamati saja.
Dan kau tahu biru? Baru 2 tahun ini aku tersadar diri
Bahwa aku hidup diabad saat kata-kata yang menggambarkan rasa begitu lekat dengan hati
Hati ku turut bermakna saat rasa itu membanjiri jiwa
Benci, dendam, takut, sedih, marah, senang, cemburu, tamak dan cinta

Kau disana hanya mampu mengamati semuanya
Sedangkan aku disini mampu merasakan sepenuhnya
Inilah yang waktu itu pernah kita bicarakan
Saat kepunahan suatu peradaban tak mampu kita lukiskan

Aku menyuratimu biru..
Entah dengan apa harus kukirim surat ini untukmu
Disini orang-orang menulis dengan simbol-simbol ditekan
Dan semakin hilang saja keindahan seni tulisan tangan

Dengarkan biru..
Negri dimana dirimu berada dan dulu aku berada
Adalah negri tanpa luka menganga
Mampu memilih untuk menjadi diri apa adanya
Dan disanalah seharusnya kamu berada
Begitu juga kemuning, indigo, putih gading, lembayung dan semua

Akulah yang akan terus mencari
Jangan lupa ya kompasku untuk diperbaiki
Kapan-kapan akan kukabari lagi

Salam hidup

Dari Jingga, 2009.

2 komentar:

Jenny Jusuf mengatakan...

Indah... :-)

Enggar Eka Praptiwi mengatakan...

syahdu...sendu...pilu...