Aku mengaguminya. Aku mengenalnya bertahun-tahun sudah. Sungguh sulit menggambarkannya dengan kata-kata logis dan gamblang. Melihatnya saja sudah keluar dari batas logis ku. Semua seperti mimpi, bertemu dengannya adalah mimpi yang dipilihkan alam untuk ku. Aku bukan apa-apa. Aku begitu naïf dengan arti kehidupan. Makna yang ku dapat saat ini adalah hasil pilihan alam yang diberikan kepadaku. Takdir. Kebetulan. Keberuntungan. Yang membuatku tak mampu menuntut jawaban dari semua pertanyaan. Yang membuat ku tak mampu untuk menuntut penjelasan logis atas semua yang terjadi. Dia ada. Entah dari mana. Membuatku merasa lebih kaya. Bukan kaya akan kuantitas perolehan hidup. Bukan itu. Tapi kaya dalam duniaku yang lain.
Pantas saja aku merasa dekat dengannya. Entah mengapa dulu begitu enggan kulepaskan. Kini aku tau ada jawabannya. Walaupun aku tak tahu pasti apa jawabannya. Selangkah demi selangkah aku hanya baru menyadarinya. Dan aku sudah sanggup melepasnya…..dengan sedikit remah-remahnya pun aku sanggup menikmatinya hingga waktu yang tak terbatas.
Aku bukan apa-apa baginya. Aku merasa tak pantas untuk menulis. Tapi kupaksakan. Entah jadinya apa. Aku hanya yakin untuk membiarkan semua. membiarkan diri, membiarkan jarak, membiarkan hati, membiarkan rasa, membiarkannya agar tetap seperti apa adanya. Saat aku menerima. Seperti saat aku menemukan. Seperti saat aku menikmatinya.
Aku penikmat kekosongan. Aku hanya mampu mencium keharumannya, tanpa kujamah sedikitpun. Seperti juga aku hanya mampu menyentuh lekuk hembusan nafasnya, tanpa kugenggam regangan tubuhnya. Hanya satu indera yang kugunakan untuk mengindera nya. Aku bahkan tak mampu membayangkan keindahannya saat kugunakan seluruh indera tubuhku. Untuk merasainya, aku berkata ‘cukup’ karena semuanya sungguh indah untukku. Hanya satu indera saja.
Aku mengaguminya. Aku menangis. Menangis bukan karena kepedihan, menangis bukan karena kebahagiaan. Hanya karena keindahan alam untukku lewat dirinya. Aku tenggelam dalam airmata ku. Melewati batas kegusaran jiwa. Menembus sosok bercahaya dalam mimpi sadarku.
Dia tak pernah datang untuk meminta, dia tak pernah menatapku untuk berharap, dia tak pernah ada untuk menilaiku. Dia hanya ada. Ada sejak beberapa tahun silam. Saat aku masih terlelap.
Dia bagaikan pintu yang terbuka dan menggoda untuk memasukinya. Bagaikan candu yang tak sengaja kuhirup dan menarikku dengan gemulai. Bersenandung irama rindu akan hidup. Pangkal kehidupan, jalan kehidupan, dan akhir segalanya. Dialah candu dan aku gundiknya. Dialah hidup dan aku nafasnya. Dialah rahim dan aku spermanya. Dialah Tuhan dan aku pendeta. Dia mencari Tuhan dan aku mencarinya. Kedalam ruang batinnya, begitu indah, membuatku menangis, sekali lagi menangis. Aku takkan mampu memberinya bahagia, karena kebahagiaan sendiri telah menjadi miliknya. Dia telah ada sejak dulu, namun aku tak merasa kehilangan waktu untuk merasainya.
Inilah saat jiwaku kosong. Dia mengajariku. Menikmati kekosongan dengan cara yang sama sekali berbeda. Bahkan kosongpun menembus kesempurnaan saat duduk disampingnya. Saat kegalauan jiwa begitu penuh sesak dalam batinku, dia ada untuk rasa kosong ku.
Hidup bagaikan pendulum yang naik dan turun, jauh kekiri dan terlempar kekanan, melewati titik terendah, membalik dititik tertinggi. Titik nol. Aku menikmatinya. Bahkan kutemukan keseimbangan sepenuhnya. Kadang melambat kadang bergulir cepat. Terus berubah. Dihujani angin kencang terkadang lambaian lembut.
Namun saat-saat di Titik nol ia ada dan memenuhi dinding kosong. Saat energi terkuras habis dan alam siap me-reload-nya kembali, perlahan hingga penuh dan terlempar kembali. Hanya sesaat disanalah dia berdiri. Memegangi kenikmatan harfiah dan merubahnya menjadi tetes embun yang menyejukkan. Menyirami jiwa yang kosong. Aku memejamkan mata, menghirup nafasnya dan bermandikan peluhnya. Total dan netral. Kosong dan padat. Hidup dan mati. Hina dan sakral. Nol.
Dan ia mengajariku, tanpa menilai, tanpa meminta, tanpa berharap. Ia begitu penuh saat kosong menghampiriku. Sehingga aku mampu bernafas dalam hampa.. Tak perlu aku menggantungkan jiwaku padanya. Cukup hanya sesaat. Karena tanpa nya justru aku penuh dan ada nya justru membuatku kosong. Nol. Dan hidup.
Minggu, 15 Februari 2009
Kamis, 12 Februari 2009
Saat yang tertinggal hanya gelap
Saat semua yang tertinggal hanyalah gelap, sebenarnya agak bias antara kosong dan penuh. Tiba-tiba aku punya kesulitan untuk membedakannya.
Kesulitan ini bukan kesulitan yang menyusahkan. Bukan kesulitan yang mengganggu. Bukan juga kesulitan yang menyiksa sampai aku merasa ingin lari darinya.
Kesulitan ini kesulitan yang paling teramat baik yang pernah aku rasakan, jadi sangatlah mudah untuk aku terima sepenuhnya. Aku amati dengan seksama, hingga rasanya pelaaan sekali dan makan waktu.
Ini hal baru.
Beberapa waktu lalu, satu hal yang hampir serupa dan mirip sekali dengan yang pernah terjadi beberapa tahun lalu, terjadi lagi. Caci maki dan hinaan dari satu orang lain lagi membuka mataku sampai sejauh mana berjalan menjelajah diri.
Di satu sisi aku ‘berhasil’ mengamati rasa marah, sakit dan sedih. Seperti tontonan saja. Menyadari saja apa rasanya. Menyadari saja respon tubuh atas rasa campuran ketiganya. Di sisi lain aku merasakan sepenuhnya dan total membiarkan tubuh gemetar, jantung berdebar, mual dan pening seharian penuh, terkadang ingin meracau, terkadang keluar sumpah serapah, aku biarkan..hidup dengan diriku apa adanya, apa maunya. Seperti ada ‘komunikasi’ nir kata antara aku dan aku yang lainya. Apa Alam sedang ‘berbicara’ lewat aku dan membiarkan aku lainnya untuk merasakan dan membiarkan semua. Entahlah.
Tapi ada yang menarik..Ada yang lain..hanya satu yang stabil, seperti tak bergeming sama sekali, seperti autis didunia nya sendiri, seperti tak terpengaruh, untouchable, memberi hidup, memberi asupan gizi pada jiwa untuk ‘mengamati’, bensin untuk tetap ‘eling’….nafas ku konstan. Disaat yang sama, detik yang sama, dibalik semua respon tubuh dan perasaan yang jungkir balik, aku ‘tahu’ aku baik-baik saja karena semua akan hilang dan berganti. Dan hanya nafas ini yang setia..dan ada. Alam telah memperlihatkan Dirinya lewat nafasku. Dia dekat. Dan aku baik-baik saja.
Sejauh ingatan aku atas hal serupa yang pernah terjadi beberapa tahun lalu, aku saat ini adalah aku yang totally berbeda. Aku saat ini jauh lebih ‘hidup’ dan lebih siap menghadapi ini, semoga memang siap menghadapi perubahan apapun.
Antara racauan dan tontonan tadi, aku tidak menemukan satu pun ruang untuk ‘penyimpanan’. Disatu sisi sudah disapu bersih oleh nafasku lewat kesadaran untuk mengenali setiap rasa dan respon tubuh dengan mengamati. Dan di sisi lainnya pun sudah disapu bersih oleh pergumulan rasa dan respon tubuh yang kubiarkan hingga selesai, tanpa lari darinya, tanpa menolak sedikitpun, hanya mengikuti gerak dan apa maunya saja. Walaupun untuk melakukan ini aku membutuhkan ‘ruang dan waktu’ untuk sendirian seharian tanpa berinteraksi dengan apapun dan siapapun hingga aku merasa ‘selesai’ dan kosong tapi sekaligus penuh dalam waktu yang sama. Tapi belum tahu juga bagaimana ‘mengecek’ apa memang benar2 tidak ada yang disimpan lagi atau masih ada tumpukan sampah dari kejadian ini.
Setelah hari itu sejujurnya aku belum melakukan perenungan apapun, belum melakukan bentuk meditasi apapun. Lagi masa bodo, malas dan hanya menjalani hidup, santai sekali. Sampai tadi malam.
Rasa yang kosong tapi sekaligus penuh. Instruksinya adalah, rasakan setiap momen sebagai hal yang baru. Aku merasakan ‘hadir’ sepenuhnya disana. Setiap detik, menit berlalu satu-satu, rasanya penuh, total ada disana, sejauh ingatan ku saat ini, tidak ada splash memori hal-hal yang sudah lewat, dan tidak ada ‘monyet’ berkeliaran. Dan gong nya adalah, bahkan tidak ada pertanyaan usil satupun dari pikiran ku untuk bertanya ‘lho kok kosong begini’. Tidak ada apa-apa, yang tidak ada apa-apa. Tidak mengharapkan apa-apa, bahkan tidak mengharapkan tidak ada apa-apa. Tragisnya tidak berharap sama sekali. Ini kosongnya.
Dan penuhnya adalah layar gelap tanpa ‘film’ apa-apa, benak dan pikiran yang kosong, kesadaran yang penuh, jantung sebagai generator dan nafas sebagai solarnya. Sisanya ‘mati lampu’ tapi ‘menyala’…begitu lah.
Aku tahu ini bagian penjelajahan diri yang belum selesai. Tapi kata-kata ‘terima saja’ dan pasrah..punya cicipan yang berbeda tadi malam.
Pasrah yang total, sampai pasrah sama rasa pasrah yang paling aku tahu selama ini, sampai sampai bahkan tidak ada keinginan untuk pasrah sedikitpun. Pasrah yang baru, pasrah yang lebih pasrah dari cara pasrah yang aku tahu, tidak ngapa-ngapain lebih dari tidak ngapa-ngapain yang aku tahu. Kesadaran yang aku rasain tadi malam rasanya seperti cicipan baru. Detik dan menit sudah tidak ada ‘harga’ nya.
Dan setiap potongan, irisan, cincangan bahkan partikel terkecil dari cicipan baru ini begitu aku nikmati dan rasanya aku total ada dan hadir disana dari # ke #....aku ambil symbol # untuk menggambarkan satuan yang lain dari waktu yang kita kenal. Ini lebih berasa ‘ada’ dibanding hitungan detik, menit bahkan 20menit tadi malam. Rasanya kira-kira banyaknya # yang aku lalui melebihi 20menit dan kira-kira setara dengan 1jam waktu bumi…
Terima kasih Alam, untuk meditasi ku tadi malam. Untuk hidupku.
Kesulitan ini bukan kesulitan yang menyusahkan. Bukan kesulitan yang mengganggu. Bukan juga kesulitan yang menyiksa sampai aku merasa ingin lari darinya.
Kesulitan ini kesulitan yang paling teramat baik yang pernah aku rasakan, jadi sangatlah mudah untuk aku terima sepenuhnya. Aku amati dengan seksama, hingga rasanya pelaaan sekali dan makan waktu.
Ini hal baru.
Beberapa waktu lalu, satu hal yang hampir serupa dan mirip sekali dengan yang pernah terjadi beberapa tahun lalu, terjadi lagi. Caci maki dan hinaan dari satu orang lain lagi membuka mataku sampai sejauh mana berjalan menjelajah diri.
Di satu sisi aku ‘berhasil’ mengamati rasa marah, sakit dan sedih. Seperti tontonan saja. Menyadari saja apa rasanya. Menyadari saja respon tubuh atas rasa campuran ketiganya. Di sisi lain aku merasakan sepenuhnya dan total membiarkan tubuh gemetar, jantung berdebar, mual dan pening seharian penuh, terkadang ingin meracau, terkadang keluar sumpah serapah, aku biarkan..hidup dengan diriku apa adanya, apa maunya. Seperti ada ‘komunikasi’ nir kata antara aku dan aku yang lainya. Apa Alam sedang ‘berbicara’ lewat aku dan membiarkan aku lainnya untuk merasakan dan membiarkan semua. Entahlah.
Tapi ada yang menarik..Ada yang lain..hanya satu yang stabil, seperti tak bergeming sama sekali, seperti autis didunia nya sendiri, seperti tak terpengaruh, untouchable, memberi hidup, memberi asupan gizi pada jiwa untuk ‘mengamati’, bensin untuk tetap ‘eling’….nafas ku konstan. Disaat yang sama, detik yang sama, dibalik semua respon tubuh dan perasaan yang jungkir balik, aku ‘tahu’ aku baik-baik saja karena semua akan hilang dan berganti. Dan hanya nafas ini yang setia..dan ada. Alam telah memperlihatkan Dirinya lewat nafasku. Dia dekat. Dan aku baik-baik saja.
Sejauh ingatan aku atas hal serupa yang pernah terjadi beberapa tahun lalu, aku saat ini adalah aku yang totally berbeda. Aku saat ini jauh lebih ‘hidup’ dan lebih siap menghadapi ini, semoga memang siap menghadapi perubahan apapun.
Antara racauan dan tontonan tadi, aku tidak menemukan satu pun ruang untuk ‘penyimpanan’. Disatu sisi sudah disapu bersih oleh nafasku lewat kesadaran untuk mengenali setiap rasa dan respon tubuh dengan mengamati. Dan di sisi lainnya pun sudah disapu bersih oleh pergumulan rasa dan respon tubuh yang kubiarkan hingga selesai, tanpa lari darinya, tanpa menolak sedikitpun, hanya mengikuti gerak dan apa maunya saja. Walaupun untuk melakukan ini aku membutuhkan ‘ruang dan waktu’ untuk sendirian seharian tanpa berinteraksi dengan apapun dan siapapun hingga aku merasa ‘selesai’ dan kosong tapi sekaligus penuh dalam waktu yang sama. Tapi belum tahu juga bagaimana ‘mengecek’ apa memang benar2 tidak ada yang disimpan lagi atau masih ada tumpukan sampah dari kejadian ini.
Setelah hari itu sejujurnya aku belum melakukan perenungan apapun, belum melakukan bentuk meditasi apapun. Lagi masa bodo, malas dan hanya menjalani hidup, santai sekali. Sampai tadi malam.
Rasa yang kosong tapi sekaligus penuh. Instruksinya adalah, rasakan setiap momen sebagai hal yang baru. Aku merasakan ‘hadir’ sepenuhnya disana. Setiap detik, menit berlalu satu-satu, rasanya penuh, total ada disana, sejauh ingatan ku saat ini, tidak ada splash memori hal-hal yang sudah lewat, dan tidak ada ‘monyet’ berkeliaran. Dan gong nya adalah, bahkan tidak ada pertanyaan usil satupun dari pikiran ku untuk bertanya ‘lho kok kosong begini’. Tidak ada apa-apa, yang tidak ada apa-apa. Tidak mengharapkan apa-apa, bahkan tidak mengharapkan tidak ada apa-apa. Tragisnya tidak berharap sama sekali. Ini kosongnya.
Dan penuhnya adalah layar gelap tanpa ‘film’ apa-apa, benak dan pikiran yang kosong, kesadaran yang penuh, jantung sebagai generator dan nafas sebagai solarnya. Sisanya ‘mati lampu’ tapi ‘menyala’…begitu lah.
Aku tahu ini bagian penjelajahan diri yang belum selesai. Tapi kata-kata ‘terima saja’ dan pasrah..punya cicipan yang berbeda tadi malam.
Pasrah yang total, sampai pasrah sama rasa pasrah yang paling aku tahu selama ini, sampai sampai bahkan tidak ada keinginan untuk pasrah sedikitpun. Pasrah yang baru, pasrah yang lebih pasrah dari cara pasrah yang aku tahu, tidak ngapa-ngapain lebih dari tidak ngapa-ngapain yang aku tahu. Kesadaran yang aku rasain tadi malam rasanya seperti cicipan baru. Detik dan menit sudah tidak ada ‘harga’ nya.
Dan setiap potongan, irisan, cincangan bahkan partikel terkecil dari cicipan baru ini begitu aku nikmati dan rasanya aku total ada dan hadir disana dari # ke #....aku ambil symbol # untuk menggambarkan satuan yang lain dari waktu yang kita kenal. Ini lebih berasa ‘ada’ dibanding hitungan detik, menit bahkan 20menit tadi malam. Rasanya kira-kira banyaknya # yang aku lalui melebihi 20menit dan kira-kira setara dengan 1jam waktu bumi…
Terima kasih Alam, untuk meditasi ku tadi malam. Untuk hidupku.
Langganan:
Postingan (Atom)
