Kamis, 12 Februari 2009

Saat yang tertinggal hanya gelap

Saat semua yang tertinggal hanyalah gelap, sebenarnya agak bias antara kosong dan penuh. Tiba-tiba aku punya kesulitan untuk membedakannya.

Kesulitan ini bukan kesulitan yang menyusahkan. Bukan kesulitan yang mengganggu. Bukan juga kesulitan yang menyiksa sampai aku merasa ingin lari darinya.

Kesulitan ini kesulitan yang paling teramat baik yang pernah aku rasakan, jadi sangatlah mudah untuk aku terima sepenuhnya. Aku amati dengan seksama, hingga rasanya pelaaan sekali dan makan waktu.

Ini hal baru.

Beberapa waktu lalu, satu hal yang hampir serupa dan mirip sekali dengan yang pernah terjadi beberapa tahun lalu, terjadi lagi. Caci maki dan hinaan dari satu orang lain lagi membuka mataku sampai sejauh mana berjalan menjelajah diri.

Di satu sisi aku ‘berhasil’ mengamati rasa marah, sakit dan sedih. Seperti tontonan saja. Menyadari saja apa rasanya. Menyadari saja respon tubuh atas rasa campuran ketiganya. Di sisi lain aku merasakan sepenuhnya dan total membiarkan tubuh gemetar, jantung berdebar, mual dan pening seharian penuh, terkadang ingin meracau, terkadang keluar sumpah serapah, aku biarkan..hidup dengan diriku apa adanya, apa maunya. Seperti ada ‘komunikasi’ nir kata antara aku dan aku yang lainya. Apa Alam sedang ‘berbicara’ lewat aku dan membiarkan aku lainnya untuk merasakan dan membiarkan semua. Entahlah.

Tapi ada yang menarik..Ada yang lain..hanya satu yang stabil, seperti tak bergeming sama sekali, seperti autis didunia nya sendiri, seperti tak terpengaruh, untouchable, memberi hidup, memberi asupan gizi pada jiwa untuk ‘mengamati’, bensin untuk tetap ‘eling’….nafas ku konstan. Disaat yang sama, detik yang sama, dibalik semua respon tubuh dan perasaan yang jungkir balik, aku ‘tahu’ aku baik-baik saja karena semua akan hilang dan berganti. Dan hanya nafas ini yang setia..dan ada. Alam telah memperlihatkan Dirinya lewat nafasku. Dia dekat. Dan aku baik-baik saja.

Sejauh ingatan aku atas hal serupa yang pernah terjadi beberapa tahun lalu, aku saat ini adalah aku yang totally berbeda. Aku saat ini jauh lebih ‘hidup’ dan lebih siap menghadapi ini, semoga memang siap menghadapi perubahan apapun.

Antara racauan dan tontonan tadi, aku tidak menemukan satu pun ruang untuk ‘penyimpanan’. Disatu sisi sudah disapu bersih oleh nafasku lewat kesadaran untuk mengenali setiap rasa dan respon tubuh dengan mengamati. Dan di sisi lainnya pun sudah disapu bersih oleh pergumulan rasa dan respon tubuh yang kubiarkan hingga selesai, tanpa lari darinya, tanpa menolak sedikitpun, hanya mengikuti gerak dan apa maunya saja. Walaupun untuk melakukan ini aku membutuhkan ‘ruang dan waktu’ untuk sendirian seharian tanpa berinteraksi dengan apapun dan siapapun hingga aku merasa ‘selesai’ dan kosong tapi sekaligus penuh dalam waktu yang sama. Tapi belum tahu juga bagaimana ‘mengecek’ apa memang benar2 tidak ada yang disimpan lagi atau masih ada tumpukan sampah dari kejadian ini.


Setelah hari itu sejujurnya aku belum melakukan perenungan apapun, belum melakukan bentuk meditasi apapun. Lagi masa bodo, malas dan hanya menjalani hidup, santai sekali. Sampai tadi malam.

Rasa yang kosong tapi sekaligus penuh. Instruksinya adalah, rasakan setiap momen sebagai hal yang baru. Aku merasakan ‘hadir’ sepenuhnya disana. Setiap detik, menit berlalu satu-satu, rasanya penuh, total ada disana, sejauh ingatan ku saat ini, tidak ada splash memori hal-hal yang sudah lewat, dan tidak ada ‘monyet’ berkeliaran. Dan gong nya adalah, bahkan tidak ada pertanyaan usil satupun dari pikiran ku untuk bertanya ‘lho kok kosong begini’. Tidak ada apa-apa, yang tidak ada apa-apa. Tidak mengharapkan apa-apa, bahkan tidak mengharapkan tidak ada apa-apa. Tragisnya tidak berharap sama sekali. Ini kosongnya.

Dan penuhnya adalah layar gelap tanpa ‘film’ apa-apa, benak dan pikiran yang kosong, kesadaran yang penuh, jantung sebagai generator dan nafas sebagai solarnya. Sisanya ‘mati lampu’ tapi ‘menyala’…begitu lah.

Aku tahu ini bagian penjelajahan diri yang belum selesai. Tapi kata-kata ‘terima saja’ dan pasrah..punya cicipan yang berbeda tadi malam.

Pasrah yang total, sampai pasrah sama rasa pasrah yang paling aku tahu selama ini, sampai sampai bahkan tidak ada keinginan untuk pasrah sedikitpun. Pasrah yang baru, pasrah yang lebih pasrah dari cara pasrah yang aku tahu, tidak ngapa-ngapain lebih dari tidak ngapa-ngapain yang aku tahu. Kesadaran yang aku rasain tadi malam rasanya seperti cicipan baru. Detik dan menit sudah tidak ada ‘harga’ nya.

Dan setiap potongan, irisan, cincangan bahkan partikel terkecil dari cicipan baru ini begitu aku nikmati dan rasanya aku total ada dan hadir disana dari # ke #....aku ambil symbol # untuk menggambarkan satuan yang lain dari waktu yang kita kenal. Ini lebih berasa ‘ada’ dibanding hitungan detik, menit bahkan 20menit tadi malam. Rasanya kira-kira banyaknya # yang aku lalui melebihi 20menit dan kira-kira setara dengan 1jam waktu bumi…

Terima kasih Alam, untuk meditasi ku tadi malam. Untuk hidupku.

Tidak ada komentar: