Kamis, 16 Juli 2009

aku teringat seseorang

Aku teringat seseorang, seringnya dulu kami bercakap ditenda kecil pinggir jalan, tengah malam kadang rintik menemani, sesekali terdengar deru motor dan asap angkot kosong menghias pandangan kami, pandangannya yang sangat padat isi dan pandanganku yang sangat padat kepenatan


Ia bicara dalam logat jawa nan kental, membanjiri rasa nyaman dalam resah tengah malam. Entah mau kemana lagi aku berjalan, ia hanya tertawa dalam senyuman terkulum. Entah berapa kali aku berkata 'ya kamu benar' dan berkata 'ya itu maksudku'


Umur yang terpaut satu dekade tak dapat dipisahkan oleh kesukaan kami, yaitu susu hangat rasa coklat yang perlahan kami nikmati, memang lebih sehat dibandingkan kopi ber kafein karena kami sangat peduli dengan apapun yang kami cerna. Teguk demi teguk, diantaranya percakapan yang biasa saja untuknya namun tak kusangka untukku kini ia adalah dewa kata-kata. Entah percakapan untuk mengisi kekosongan antara tegukan atau tegukan yang mengisi antara kekosongan kata


Dulu aku begitu ganjil dengan kebiasaannya membungkukkan badan saat berpisah, dulu aku begitu canggung melihat ketidakpeduliannya akan penilaian orang lain, tapi aku tidak melihatnya urakan.


‘Jadilah sederhana, perlahan kamu akan mendapatkan segalanya sempurna’


Sosoknya begitu tenang, penuh kematangan dan keramahan. Matanya tak pernah kulihat melompat bahkan sesekali bersinar memantulkan cahaya bulan. Keresahanku banyak terbayar saat-saat itu, impas dibuatnya.


'Tidak perlu berjalan cepat, kamu akan kesepian saat tiba, bahkan dari dirimu sendiri'


Beberapa menit aku merenunginya, seteguk susu dan diam, entah apa maksudnya. Beberapa saat setelah itu, aku melantur tentang sebuah pencarian dan seteguk susu lagi, untaian kata kembali mengalun


‘cari kedalam’


kembali aku hanya mendengar dan seakan tak peduli, tenggelam dalam topik pencarian panjang yang penuh tanda bertanya. Dia bukan apa-apa dan hampir tak terlihat oleh siapapun, tapi nyatanya aku peduli. Dia cermin diam dalam resahku.


'Siapapun yang mencari, ia akan menemukan'


Tak ada sedikitpun keinginan ku untuk bertanya mencari apa dan menemukan apa, padahal pikiranku terus mengganjal, tapi ke'ada'an sosoknya disampingku membuatku hanya mampu mendengar dan tak mampu bertanya apalagi menyanggah, namun ia berucap begitu saja. Dari begitu banyak mutiara yang meluncur darinya hanya beberapa saja yang terngiang dirongga jiwa yang tiba-tiba muncul satu demi satu ke ruang memoriku kini. Disaat aku sudah siap untuk berteriak lantang tanpa suara, melainkan hanya dengan tawa dan senyuman terkulum dibibirku. Kau pasti sudah mengerti sahabat bahwa aku menangis dalam memori kata-kata mu. Saat evolusi terjadi dengan sendirinya. Saat pencarian menjadi titik titik cahaya sisa setelah ledakan bunga api. Aku takkan bertanya apalagi menyanggah namun aku terkenang begitu saja.


Seorang sahabat berbagi asap jalan tengah malam, seorang guru berbagi kata-kata indah dan pendengar khayalan tai kerbau ku, seorang sederhana yang telah bebas dari keinginan nya untuk bebas, seorang pertapa di kaki gunung, seorang dengan segala kerendahan hati, seorang ayah dari manisnya kehidupan alam.


'Menemukan detik dimana kamu akan berhenti, saat tak ada apapun yang perlu dicari'


back to old days, 2006

jalan panjang, jakarta

to a friend, an inspiration.

Now I know why you left your shoes in my soul