Minggu, 19 Oktober 2008

nama

Lewat sebuah puisi cantik yang dipetik dari hasil karya seorang muslimah
Dipersembahkan oleh ibu tepat 10hari setelah ulang tahun saya (menurut budaya jawa, mulai tadi sore artinya hari sudah berganti esok, hari ini)

Aku namakan anakku Fatima
Agar dia selalu mendoakan orang lain terlebih dahulu
Sebelum mendoakan keluarga dan dirinya sendiri

Aku namakan anakku Fatima
Agar dia tak bermewah-mewah ditengah sekelilingnya yang miskin papa

Aku namakan anakku Fatima
Agar dia selalu memikirkan kesulitan orang lain

Sudahkah aku berkaca pada diriku?
Mungkin harapanku yang terlalu tinggi

Kunamakan kau Fatima
Agar kau dapat menjadi pintu Surgaku

Kunamakan kau Fatima
Agar kau dapat menjadi pelipur lara

Sudahkah aku berkaca pada diriku?
Mencintai dirinya lebih dari diriku

(Written by Ratih Sang, sung by Sita)

Begitu indah dan bermaknanya sebuah nama. Dibaliknya ternyata penuh dengan doa, symbol, makna, harapan & impian

Seperti teman saya yang menikah dengan seorang yang berbeda agama dengannya, menamai anak pertamanya dengan sebuah nama indah diambil dari nama gedung tua di satu kota besar di dunia, maknanya begitu dalam karena gedung tersebut memiliki sejarah yang luar biasa dimana dialihfungsikan beberapa kali sebagai rumah ibadah, dibangun sebagai mesjid dan beralih fungsi sebagai gereja, kembali sebagai mesjid dan berubah fungsi lagi menjadi gereja hingga saat ini.

Ada juga seorang anak laki-laki yang dinamai atas sebuah symbol keagungan raja di zaman dahulu, entah ada hubungannya atau tidak tapi saat anak ini beranjak usia sekolah, ia tumbuh menjadi anak yang sering sakit-sakitan, mudah terkena flu, demam, sakit perut dan jarang sekali dalam kondisi sehat, sehingga mengganggu kegiatannya disekolah. Kata nya, anak ini ‘keberatan’ nama, sehingga nama nya perlu diganti. Anehnya, setelah itu si anak pun menjadi lebih sehat, tumbuh menjadi anak yang berprestasi. Dan orang tuanya pun kapok menamai anak kedua dengan nama-nama besar.

Begitu juga sore tadi, seharusnya saya berada disebuah toko buku yang besar, menemani seorang teman yang sedang hamil 8 bulan untuk membeli buku terbitan terbaru tentang nama-nama bayi pilihan dan duduk minum teh untuk membahas yang mana yang sesuai dan bagus untuk jabang bayi nya. Tapi sayangnya saya harus mengurus laptop yang terkena virus dirumah. Dan upacara minum teh untuk mencari nama ditunda hingga minggu depan. Ternyata memang mencari nama menjadi sesuatu yang penting bagi nya.

Tak jarang juga kita mendengar atau berteman dengan orang2 yang diberi nama berdasarkan nama-nama santo, nama nabi, nama dewa, pahlawan, dll. Atau mungkin nama dengan gelar-gelar tertentu sebagai warisan leluhur langsung dari garis keturunan orang tua.

Apalah arti sebuah nama. Ya, nama takkan ada makna apapun apabila orang-orang atau benda-benda yg diwakilkannya pun bukan siapa-siapa atau apa-apa.

Sebaliknya, nama jadi begitu bermakna saat orang-orang (ataupun benda) menjadi tokoh ataupun contoh ideal yang setidaknya dianggap sukses atau sempurna dan menjadi panutan oleh masyarakat pada masa-masa tertentu.

Begitu juga dengan gelar turun temurun, yang terkesan arogan dengan memperlihatkan perbedaan ‘kasta’ yang kental dan ‘wajib’ dibawa hingga anak, cucu dan cicit, sehingga mereka terlihat ‘berbeda’ dan berharap disegani disepanjang masa, kapanpun itu.

Terkadang kita sama sekali tidak menyadari bahwa memang bukanlah nama yang mempunyai makna yang dalam. Namun harapan dan impian yang tinggi dibaliknya.

Namun beban moral yang begitu besar dan tuntutan untuk bertanggung jawab seumur hidup atas nama yang menjadi ‘label’ sampai mati inilah yang menjadi isu besar sebagai salah satu ‘warisan cinta yang (dapat) berujung (menjadi) malapetaka’ bagi individu-individu tertentu.

Ada kalanya bagi individu-individu tertentu merasa harapan dibalik nama ini menjadi sebuah malapetaka, saat dihadapkan dengan ketidakmampuan diri untuk menjadi bayang-bayang kesempurnaan nama-nama besar yang disandangnya selama hidup. Tidakkah kita sadari saat anak ter lahir ke dunia, orang tua lah yang bertanggung jawab atas apapun nama yang diberikan? (walaupun terkadang kakek, nenek, om & tante pun turut menyumbang tanggung jawab ini)

Sesaat ‘menamai’ seorang bayi lugu yang belum berdosa bagaikan mengukir tato indah seumur hidup dengan tinta emas yang tertanam dibawah kulit, namun tanpa disadari bahwa ukiran tato emas tersebut dapat saja terabsorbsi perlahan ke dalam jiwanya. Tanpa mampu memilih untuk diri sendiri dan hanya mampu menerima sebuah nama dengan pasrah.

Apabila nama hanyalah nama dan tak perlu diikuti dengan harapan dan impian, mungkin saja manusia akan lebih dapat mengekspresikan diri secara utuh, menjadi dirinya sendiri, tanpa takut dan malu bahwa dirinya tak sehebat tokoh dibalik nama besar yang menjadi namanya, atau setidaknya menjadi tokoh apa adanya dirinya, bahkan mungkin menjadi tokoh yang lebih hebat yang sebenar-benarnya, bersih tanpa bayang-bayang.

Kebahagiaan orang tua yang meluap begitu hebat saat bayi yang suci terlahir ke dunia, membanjiri anak dengan cinta yang teramat dahsyat sampai-sampai dihadapkan pada berbagai ‘kebingungan’ atas pilihan beberapa makna nama-nama, ada yang bernafaskan agama, seni ataupun budaya. Dan kesempatan inipun digunakan para penerbit buku tentang pilihan nama-nama yang ‘pantas’ untuk para orang tua memilihkan ‘beban’ nama yang akan dibawa seumur hidup yang alih-alih disebut ‘cinta’ untuk sang anak.

Kembali pada istilah yang saya pinjam dari seorang ‘pemulung’ keajaiban, yaitu ‘warisan cinta yang berujung malapetaka’. Tujuan mewariskan ‘cinta’ yang disertai dengan niat, harapan dan impian yang besar oleh orang tua memang tak dapat dihindari, karena apapun akibat dari nama apapun yang diwariskan pada generasi penerus selalu bertujuan untuk memberikan yang terbaik. Begitu pula pada proses nya, orang tua juga akan selalu berdoa terus menerus tanpa putus asa agar sang anak dapat mewujudkan segala niat, harapan dan impian mereka kelak. Dan saat segalanya tak sesuai, dengan harapan dan doa yang mereka panjatkan, mereka akan kecewa, yang amat sangat, hingga sang anaklah yang harus bertanggung jawab atas kekecewaan tersebut. Tak pelak terkadang label ‘anak durhaka’ pun menjadi label pengganti. Sungguh ironis.

Dan perlu disadari pula bahwa ‘label’ penamaan ini juga memudahkan perjalanan hidup sebagai manusia yang beradab dan bertumbuh. Tanpa nama, akan menyulitkan manusia bersosialisasi, berinteraksi, belajar, dan berbudaya. Ya, akan sulit sekali.

Nama tinggalah nama, mungkin ada baiknya memberikan ‘ruang kosong’ saja untuk seseorang bertumbuh tanpa penjara niat, harapan dan impian orang tua, karena bisa saja tanpa itu semua tersimpan keindahan yang bersinar yang dengan sendirinya justru menjadi anugrah terindah bagi orng tua.

Lalu sebagai generasi penerus ‘cinta’ orang tua, berbakti pun akan selalu menjadi tuntutan apabila dianggap sebagai tuntutan. Begitu juga dengan harapan dan impian dibalik nama, akan selalu menjadi beban saat dianggap sebagai beban. Namun perlu disadari bahwa ‘cinta’ yang ujungnya terasa pahit, mungkin hanya ditangan kitalah berubah menjadi manis, lihatlah bagaimana kita sebagai diri sendiri mampu merubah pahit menjadi manis, tanpa perlu bersusah payah menjadikan diri sesuai harapan dan impian mereka. Tidak punya label pengganti seperti ‘anak durhaka’ misalnya saja, itu sudah baik.

Walaupun belum tentu mampu membawakan pintu surga untuk ibu.

berhenti berharap

Terkadang ia meminta orang lain untuk ‘mengetahui’
Seringkali ia pun berharap semua orang untuk ‘memaklumi’
Selalu juga menginginkan beberapa orang saja untuk ‘mengerti’
Setiap saat ia menuntut setidaknya orang terdekat saja untuk ‘memahami’
Setiap detik ia merasa menderita saat orang yang ia cintai sulit untuk ‘menerima’

Ia hanya ‘mengetahui’ bahwa hidup ini bertujuan
Ia ‘memaklumi’ semua jalan yang dihadiahkan untuknya
Namun begitu sulit untuk di’mengerti’…..
Saat dirinya mulai ‘memahami’ bahwa ia hidup dengan kompas berjarum mati
Ia pun ‘menerima’nya

Kini hanya orang yang dicintai ‘mengetahui’
Dan tak apa saat orang-orang terdekatnya hanya mampu ‘memaklumi’
Beberapa orang saja yang cukup ‘mengerti’
Biarpun semua orang tak sanggup ‘memahami’
Tak peduli walau orang lain tak bisa ‘menerima’