Kamis, 21 Mei 2009

Pada Senja di Lantai Tujuh

Hari ini adalah hari seperti biasanya yang kulalui, satu-satu tanda cek pada list to do dalam organizer ku selesai sudah. Satu lagi waktu kuhabiskan dalam hitungan hari.

Hari ini aku harus bertemu dengan seorang klien disalah satu gedung perkantoran yang cukup terkemuka di kota ku. Hingar bingar sore kulalui menembus derasnya hujan yang turun sedari siang. Dan sampailah aku di sebuah café pilihan ku untuk memulai diskusi penting.

Hari ini adalah hari seperti biasanya yang kulalui, dan senja pun tiba persis diujung pembicaraan kami yang terhenti dengan salam perpisahan. Namun padatnya lalu lintas membuatku enggan untuk melajukan kendaraan untuk pulang. Segelas latte decaf telah menemani sesi pertemuan dengan klien tadi dan kini kutuntaskan dengan sebotol air mineral yang meluncur sekali tungging saja melewati leherku, hanya untuk menunggu jalanan agak lengang tentunya

Tak lama kemudian rasa rasa ingin buang air kecil tak dapat kubendung. Naiklah aku ke lantai 7 gedung ini, karena menurut pak satpam letak toilet itulah yang terdekat dari posisi ku saat ini.

Aku pasrah saja. Menyusuri lobby yang sudah temaram dan kesunyian yang menembus lorong hingga suara hak sepatu ku begitu memekakkan telinga ku sendiri.. Hingga.. “Tingggg” satu pintu lift terbuka dan tombol beranak panah keatas menyala disebelahnya. Kosong. Dan beberapa detik kemudian aku mendarat di lantai 7.

Gedung ini bukan gedung baru, tapi inilah kali pertama aku menginjakkan kaki digedung ini selama aku hidup. Lobi lantai7 yang sempit dibandingkan dengan lobi lantai dasar dan sangat terang benderang, namun dua lorong ke kanan dan kekiri sudah mulai gelap dan sangat kontras gelapnya. Pintu-pintu kaca dari ruang kantor di kiri kanan lorong tersebut telah padam total tanpa penerangan apapun, yang membuat lorong semakin terasa dramatis dan mencekam.

Sesaat aku diam, hilang arah. Aku mencari directory atau denah lantai. Dan aku menemukannya pada dinding lift, lengkap dengan angka 7 yang super besar disebelahnya.

Disana tertera posisi toilet dengan sangat jelas dan mampu kubaca cepat. Dalam hati aku sempat bergumam “Thank God..ternyata gedung ini cukup manusiawi untuk orang seawam aku”, aku ingin cepat-cepat mencari toilet itu, entah karena tidak nyaman dengan suasana gelap dilantai ini atau karena rasa ‘kebelet’ yang begitu luarbiasa mendesak.

Dan posisi toilet tersebut adalah di belakang lift ini. Sudah kuduga, ilmu arsitek yang kuambil saat bangku kuliah ternyata sangat membantu disaat-saat genting begini, walaupun banyak yg tidak terpakai pada sebagian besar umur hidupku.

Toilet akan berdampingan tidak jauh dari saluran lift, karena secara teori toilet pada gedung tinggi membutuhkan saluran vertical mengarah ke tanah untuk saluran pembuangan maupun untuk suplay air bersih. Dan pada umumnya gedung tinggi, semua fasilitas transportasi seperti lift dan tangga darurat, begitu juga dengan saluran sanitasi maupun elektirkal lainnya dijadikan satu dalam sebuah ‘lubang’ yang seringkali disebut ‘core’ atau inti gedung, yang menjadi pusat konstruksi struktur gedung.

Posisi toilet yang bertolak belakang dengan lift ini, ternyata justru membuatku harus memutar menyusuri salah satu lorong untuk mencapai pintu toilet. Aku tak pikir panjang, kaki ini begitu cepat memilih salah satu koridornya dan berjalan cepat tanpa menoleh sambil menggerutu dalam hati, “kenapa denah nya jelas tapi tetep dibuat susah sampai harus berputar begini sih. Pasti aku orang yang ke sekian ratus ribu yang mengerutu seperti ini”. Yang kucari hanyalah pintu padat tanpa kaca dengan symbol maupun tulisan toilet, namun sepanjang jalan yang kutemui 6 pintu kaca yang begitu gelap kulalui satu-satu dan pintu ketujuh adalah pintu dengan tulisan toilet, berbentuk pintu darurat dengan palang besi besar horizontal ditengahnya, sedikit saja ku kutekan palang besi, terbukalah engsel pintu. Dan aku sudah ada didalamnya.

Ternyata aku tertipu, dalam ruang ini masih ada pintu-pintu lainnya, masing-masing adalah pintu toilet pria, toilet wanita, toilet direktur pria, toilet direktur wanita, 2 pintu ruang janitor (ruang untuk menyimpan peralatan kebersihan toilet) dan sebuah pintu ke tangga darurat, sekali lagi dengan pegangan pintu dari besi besar terlentang horizontal pada daunnya..pintu ke tujuh.

Seperti tujuan semula, aku hanya ingin memilih pintu toilet wanita tentunya. Dan sampailah aku didalam. Sekali lagi tiada satu orangpun ku temui sejak lobi di lantai dasar hingga seluruh pintu kubikal toiletpun berwarna hijau bertulis ‘vacant’ menandakan tidak ada satupun orang didalamnya. Hingga rasa lega begitu kunikmati saat tugasku selesai untuk membuang air sisa ini dari tubuhku, rasanya hanya ingin bergegas keluar dari toilet ‘hening’ ini.

Rasa mencekam dan takut membuat degup jantungku bagai tabuhan drum yang terus-menerus. Setelah rasa lega hilang, berganti dengan rasa takut yang luar biasa dan membuatku panic. Aku terus berusaha mengawasi nafasku dan bicara “Jangan kau tinggalkan aku saat ini”, namun semakin kuucap kata jangan, saat yang sama nafasku begitu sulit kuamati. Aku hanya membutuhkan oksigen untuk mengalirkan darah ke jantungku yang semakin ramai bertabuh dan semakin cepat iramanya. Sesaat dengan cepat kuhilangkan kata ‘jangan’ dari pikiran ku dan semakin sibuk mengamati nafas, rasa panic dan takut kubiarkan menyelubungi ku, sambil mencuci tangan dan mengeringkan nya dengan kertas tisu, aku tetap mengamati nafasku. Apalagi yang mampu kulakukan selain itu saja. Aku benar-benar pasrah. Entah apa yang kutakuti. Apakah kesendirian di hening ini? Apakah kekosongan ini? Apakah kegelapan lorong tadi yang harus kulalui sekali lagi untuk mencapai lift sebagai satu-satunya jalan keluar dari semua rasa tak nyaman ini? Aku menghadap cermin besar didalam toilet ini. aku amati diriku dalam-dalam. Apa yang membuatku begini, rasa takut yang begitu besar, tanpa aku tahu penyebabnya. Sedalam apa aku mengenal diriku hingga penyebab rasa yang kurasakan saat ini tak mampu ku simpulkan. Rasa takut yang begitu nyata dengan alasan yang sangat bias. Tak ada yang mampu kulakukan selain bernafas dan pasrah. Tak ada pilihan lain selain itu, hanya itu saja yang mampu kubawa beserta tubuh ini untuk menyusuri lorong tadi.

Hingga kuputuskan meninggalkan toilet, masuk keruang transisi tadi dan mencari pintu keluar. Namun semakin panic rasanya saat handle pintu ke arah lorong tadi kutarik namun pintu tetap tak terbuka, hingga nafasku tersengal dan jantungku berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Aku mengambil nafas sangat panjang dan mengeluarkannya perlahan dengan masih memegang handle pintu, hingga kucoba lagi untuk menariknya. Pintu tetap tak bergeming. Namun hirupan nafas panjang tadi sedikit banyak membuatku lebih tenang dan menoleh ke penjuru ruang ini. Entah apa yang kucari, semua pintu kucoba buka, pintu toilet pria dan wanita dapat kubuka, namun selain itu semua pintu terkunci, kecuali pintu tangga darurat yang belum kucoba, karena posisinya yang cukup jauh dari pintu lainnya.

Disetiap ruang aku bicara, memanggil-manggil petugas kebersihan yang kuharapkan ada dan hasilnya nihil. Tak satu orangpun yang menyahut atas panggilan ku. Dan kembali panic dan takut menghantui diriku. Begitu banyak ketakutan-ketakutan atas apapun hal yang mungkin dapat terjadi pada ku setelah ini, membuatku semakin tak karuan. Namun nafasku tetap ada dan kusadari. Respon pertama tubuhku menghadapi ini adalah alat komunikasi telpon selularku didalam tas, dengan sigap kuambil dan tertera emergency call only di layarnya, tidak ada satu bar pun sinyal dalam ruangan ini. Aku menghujat dan mengutuk provider telpon sel ku dengan nada yang tinggi, kini amarah menyelimuti ku juga, kuperhatikan rasa takut ku telah hilang dan berganti dengan kemarahan yang tak jelas dengan siapa. Dengan satpam dibawah yang menunjukkan arah toilet ini atau dengan provider telpon sel, dengan mbak-mbak petugas kebersihan atau dengan arsitek gedung kampret ini, atau dengan semua pegawai-pegawai kantor dilantai 7 yang jelas-jelas tak ada satupun yang lembur malam ini, dengan orang-orang yang bahkan tak ada dalam ruangan ini yang bahkan pula tak pernah kukenal sebelumnya, bahkan tak akan kukenal setelah adegan ini berakhir nanti. Dengan orang-orang yang tak ada satupun wajahnya mampu kegambarkan dalam pikiran ku saat ini.

Tiba-tiba airmata mengalir dan rasa lega sekilas kurasakan. Aku cukup tenang untuk menghadapi ini, untuk kembali berpikir jernih dan menikmati rasa jungkir balik ini. kupaksakan bibirku tersenyum, lumayan juga, rasa lega semakin terasa. “Apapun yang Kau rencanakan untukku saat ini, akan membuatku menjadi orang yang lebih baik, apapun Tuhan, aku serahkan segalanya” . Tiba-tiba semua rasa hilang dan ketenangan meghembus kedalam diri. Dan disaat yang sama, aku baru sadar dan melihat satu pintu yang belum ku coba untuk ku buka. Pintu ke7. Pintu darurat dengan satu besi besar melintang ditengahnya, seperti pintu ruang ini saat aku masuk dari lorong tadi, begitu mirip walaupun tak serupa bentuknya. Namun sebagai seorang lulusan arsitek aku pun tahu persis bahwa pintu tangga darurat hanya dapat dibuka dari satu sisi, apabila handle besi ini ada disisi ini artinya pintu ini hanya bisa dibuka dari ruang ini dan tak dapat dibuka dari ruang disisi lainnya, karena secara teknis, fungsi pintu tangga darurat adalah untuk menghindari orang-orang tersasar dari lantai-lantai atas ke lantai-lantai dibawahnya dan hanya tertuju pada lantai paling bawah satu level dengan permukaan tanah, agar dari segi keamanan orang-orang yang panic akibat ‘kebakaran’ atau gempa bumi dapat langsung menuju ke lantai dasar tanpa tersasar ke lantai-lantai lainnya. Dan pintu yang terbuat dari besi ini pun juga menahan api agar tidak menjalar ke lantai-lantai lainnya sehingga dapat lebih mudah untuk dipadamkan.

Tiba-tiba aku berpikir, seharusnya pintu inipun dapat ku kategorikan sesuai dengan teori yg aku terima saat kuliah. Dan tanpa melalui lift, aku bisa saja turun melalui tangga darurat hingga ke lantai dasar. Namun apa yang dapat menjamin bahwa pintu dilantai dasar pasti dapat kubuka dari dalam? Sedangkan apabila aku kembali ke lantai ini, pintu ini tak dapat kubuka lagi dari sisi ruang tangga. Aku tak mungkin dapat kembali ke ruang ini.

Tak berapa lama aku melihat tempat sampah plastic yang lumayan besar dan kokoh, segera kudorong mendekati pintu darurat. Untuk mengganjalnya selama aku mencoba menemukan pintu darurat di lantai dasar benar-benar dapat kubuka dari dalam ruang tangga. Seburuknya yang terjadi adalah pintu tidak dapat kubuka dan aku harus menaiki tangga hingga ke lantai 7 melewati pintu yang masih terbuka oleh ganjalan tempat sampah. Aku tersenyum, merasa paling pintar diruang ini dan tentu saja merangkap paling bodoh, karena tak ada satu orangpun selain aku tentunya.

Kenekatan luar biasa yang kukumpulkan hingga penuh hanya dalam waktu beberapa menit, membuatku bulat untuk menekan pintu tangga darurat tadi dan walah..dia terbuka. Dan setelah ku cek pada sisi dalamnya, benar saja, pintu ini polos tanpa handle dan tak akan dapat kubuka apabila aku harus kembali ke lantai ini. jadi rencana tempat sampah ini tetap kujalankan. Dan mulailah perjalanan kepasrahanku menuruni tangga satu-satu ke bawah. Dan pada setiap lantai nya aku menghitung jumlah pintu tangga darurat tiap lantai yang kutinggalkan, dan seharusnya paling bawah adalah pintu ke 7 dari lantai 7 diatas sana…pintu ke 4, pintu lantai 3, dan jantungku berdegup lagi..rasa takut kembali datang, silih berganti dengan kecemasan, semakin tak karuan saat kakiku menginjakkan lantai pintu ke 2. seharusnya tinggal 2 pintu lagi dan aku bebas dari ketidaknyamanan ini. ya seharusnya begitu.

Namun hitunganku berhenti di lantai 1. tangga sudah habis kuturuni dan tak ada lantai dasar. Lantai ini hanya lantai beton kosong dan bau pengap, lampu seadanya, remang-remang, sangat berdebu dan mencekam. Aku berteriak, marah, kecewa, sedih, takut, cemas semua menjadi satu. “Aku terlalu letih”, fisikku letih tanpa cairan karena sudah kubuang tadi tak bersisa, hati ku remuk tak karuan, apa lagi yang harus kupasrahkan padaMu? Aku sudah tak punya apa-apa, selain anak tangga di depan mataku yang harus kunaiki satu-satu hingga lantai 7. Aku sudah tak punya apa-apa. Aku menangis keras. Menjerit menangis seperti anak kecil yang ketakutan. Tak kubiarkan diriku lama bersimpuh dilantai ini, segera kumulai menaiki anak tangga satu-satu…keringat yg mengucur deras seiring dengan keram kaki saat menaiki anak tangga satu-satu, mata yang berkunang-kunang dan udara pengap yang sangat menyiksa, hati yang dihinggapi rasa tumpang tindih tak karuan, semua hanya penjahat bagi jiwa. Monyet-monyet penyiksa. Aku tetap ada dengan keinginanku untuk bebas dan hanya nafas ini yang benar-benar setia. Disetiap langkah berat yang kulalui…membuatku tetap sadar menghitung jumlah pintu yang kulewati, 4, 5, 6…..dan 7. Lantai kesialanku dan keberuntunganku. Aku melihatnya bagai pintu surga yang begitu berbeda dengan yang kubayangkan sebelumnya. Kaki yang mati rasa, mulutku yang kering, airmata yang mulai kering juga, mata yg berkunang-kunang, jantung yang terus berdegup kencang. Hati yang mati rasa. Pintu lantai 7 ini begitu berbeda sejak kutinggalkan tadi. Ia begitu terlihat indah dengan tempat sampah yang hampir tergeser kedalam sepenuhnya dan hendak menutup dan meninggalkanku diruang tangga aneh ini. Tapi tepat pada waktunya ia mampu kuraih dan tempat sampah terbalik tumpah kedalam. Hawa dari ruang ini lebih terasa begitu luar biasa menyejukkan dan indah..ruang yang sama yang beberapa saat lalu kukutuk tanpa ampun.

Sejauh ini aku baik-baik saja. Dan sepatu yang sejak lantai 2 sudah kujinjing dengan tangan kini kukenakan lagi. Rambut kusisir rapih, keringat kuseka dengan kertas tisu. Aku kembalikan lagi semua seperti semula. Dan aku merasakan keutuhan yang luar biasa. Semua organ tubuh yang terasa berceceran di 7 lantai deretan anak tangga tadi, kini bagai bersatu tanpa kukomandoi dan jantung serta nafas dapat kurasakan kembali utuh pada tempatnya, mataku tak berkunang lagi. Aku hanya menelan seteguk air yang kuambil segenggam telapak tangan dari air kran wastafel, namun kenikmatannya melebihi air mineral satu botol yang tadi sudah kuhabiskan di café. Inilah air kehidupan untukku. Aku luar biasa hidup. Aku benar-benar pasrah apapun yang terjadi setelah keutuhan ini. Aku mengambil nafas panjang sambil memejamkan mata sejenak dan menghembuskannya secara perlahan. “Kini aku benar-benar siap” dan keluarlah aku dari toilet wanita menuju si pintu lorong yang awalnya tak dapat kubuka…inilah kado terindah dari segala macam yang telah kulalui tadi. Pintu itu sedikit terbuka, dengan celah yang cukup besar untuk dapat kubuka, yang awalnya tadi tidak dapat kubuka sama sekali. Ada sebersit rasa keingintahuanku untuk terus bertanya dalam hati atas apa yang kualami tadi, namun pertanyaan tadi bagai menguap dengan cepat dan disapu bersih oleh nafasku. Aku berhenti bertanya saat tak ada satupun yang pantas kupertanyakan. Tak ada yang pasti, bahkan ilmu teori arsitek tentang sebuah ruang tangga darurat pun mampu dipatahkan oleh ketidakpastian pada sore ini.

Aku mendarat di lantai dasar menggunakan lift yang sama dengan selamat, bergegas keluar, bertemu pak satpam tadi dengan sumringah dan tersenyum penuh rasa kebebasan yang utuh, “Terima kasih pak” sambil lalu. Dan pak satpam pun tersenyum dingin, membuat bulu kudukku sedikit naik dan sekilas merasakan keanehan dalam senyumnya, tapi sudahlah. Tak kusangka ia menjawab sapaku, “Hati-hati, Selamat Malam”, dan aku hanya mengangguk.

Hujan deras kembali mengguyur malam ini, tanpa pikir panjang aku menerobos hujan berjalan tenang kearah parkiran mobil, cukup jauh hingga satu badan basah kuyup, namun tak terasa dingin. Seperti Alam membasuhku sempurna. Entah apa yang membuatku memutuskan melihat langit dan membiarkan wajahku terasa sedikit sakit oleh rintik hujan yang semakin deras. Sesaat kemudian aku berjalan cepat meninggalkan gedung perkantoran ini.

Mobilku sudah terlihat dalam gelap di kejauhan lapangan parkir dengan lampu taman bercahaya kuning remang-remang seadanya dan tanganku sibuk mencari kunci kedalam tas. Dan ups, kunci tertarik dan jatuh ke kubangan air di depanku, sesaat aku diam, aku sibuk menyapu pandangan ke arah kubangan untuk mencari dompet kunci dan aku menemukannya, tepat disebelah sebuah benda seukuran dompet kunciku, berbentuk kantung cepuk berwarna jingga dan kotor oleh tanah. Kantung jingga kuangkat, begitu juga kunci mobil yang sudah sangat kotor. Tanpa berpikir panjang, aku terus berlari menuju pintu mobil.

Setelah duduk didalamnya, kunyalahkan mesin mobil dan menunggu sebentar. Seakan aku tak peduli dengan basah disekujur tubuhku, aku begitu penasaran dengan kantung jingga yang kutemukan dalam kubangan tadi. “Apa ada yang kehilangan benda ini? Punya siapa dan harus kuapakan?” sesaat aku memandang kantung kecil ini tanpa berani kuintip kedalamnya, sambil menyisir pandangan ke lapangan parkir, kalau-kalau ada yang sedang mencarinya, tapi malam itu sudah sangat sepi, tak ada siapapun. Benda ini seperti tak ada yang punya. Sesaat aku terdiam dan memandanginya lebih seksama. Mengapa begitu familiar bentuknya? sungguh sangat cocok digenggam dalam telapak tanganku. Ada sesuatu didalamnya. Jangan-jangan benda ini juga kepunyaanku yang ikut tertarik dengan kunci mobil saat tadi kukeluarkan dari dalam tas dan melompat keluar bersama kunci. Bisa jadi. Jadi tak mengapa untuk kucoba buka, mungkin saja memang punyaku.

Aku terkejut, tertawa dan menangis, benda yang kukeluarkan dari dalam kantong kecil warna jingga adalah sebuah kompas mungil terbuat dari logam berwarna emas dan sangat indah. Seseorang dalam jiwaku bergumam “Ya ini memang punyaku, terima kasih Biru, suratku telah kau terima entah dengan cara apa, dan aaah leganya, jarumnya sudah utuh seperti semula, tidak patah seperti dulu kutinggalkan untuk kau perbaiki. Dan mungkin inilah cara untuk mempertemukan kita pada dimensi kepingan waktu yang sama agar kompas ini dapat kugenggam lagi”

Seutuh jiwa kutinggalkan lapangan parkir gedung perkantoran ini. Sesaat kutengok jam tangan ku, menunjukan pukul 19.07 pada jarumnya.

“Biru, aku betul-betul merindukan Mu.
Tanpa Mu aku tak mampu menjelajah waktu
Dan kompas emas ini kembali berkilauan ditanganku.
Aku tahu Kau akan selalu ada dan tak pernah meninggalkanku
Entah dengan cara apa, Kau juga tahu isi kerinduan jiwaku
Kini aku siap berjalan, tapi kali ini Kau tak kan jauh dariku”
Jingga, 2009.

Jumat, 01 Mei 2009

sepanjang malam aku menangis

Satu malam pada Desember 2008 :
Entah apa yang membuatku bersimbah airmata dan membengkakan mata
Sampai-sampai kepala ku sakit, mau pecah, dan muntah

Aku merasa begitu rindu, sangat rindu
Tanpa mampu berkata pada apa pada siapa

Tapi mungkin pada Tuhan dan diriku
Disaat yang sama dengan rasa yang sama dengan jumlah dan besaran yang sama
Rasa campuran yang entah kenapa rasanya sama

Tuhan dan aku sama, aku tuhan dan tuhan aku
Aku tidak ada tuhan juga tak ada
Aku ada tuhan juga ada

Saat diri ini bicara sendiri mungkin nalurilah yang diajak bicara
Saat diri ini bicara pada tuhan mungkin nalurilah yang berperan sebagai tuhan

Alam berputar untuk diriku hari ini
Semua berbalik menhujam diri
Mencambuk sampai merintih berbicara: tuhan ampuni aku dan aku ampuni tuhan

Atas semua ciptaan yang diberikan padaku
Sekuat jiwa yang merintih menangis dan merindukan hangat tubuh mu tubuh ku
Atas semua tarikan dan hembusan nafas ini
Semua cerita dalam bilangan waktu
Atas semua detak jantung dan aliran darah dalam tubuhku tubuhmu

Hai, aku berbicara padamu, wahai diri wahai tuhan
AKU TIDAK PEDULI
Dengan gerbang bersinar yang seringkali kau janjikan didepan mataku
Aku hanya rindu menyentuh diri menyentuh tuhan
Dengan marah dalam tangis spanjang malam
Saat jiwa sedang didustai oleh diri dan tuhan, tapi aku MENCINTAIMU

Kini aku terbangun bahwa Aku yang kukenal sekian thn lamanya, hanya seujung anak gunung yang menyembul dari permukaan lautan
Wahai tuhan semesta alam, aku begitu kecil hingga kau injak-injak dan kau kangkangi di bawah langit birumu dan langit hitammu dan jajaran bintang dan mataharimu
Wahai tuhan semesta alam, aku begitu besar hingga bayangan sayaplebarku menutup dalamnya lautan jiwa hingga ke inti bumi sampai panasnya mampu menembus tulangku sendiri

Aku frustasi aku bahagia, rasa campur aduk dan hilang..semua tidak ada

Menembus tatapan dalam mataku didepan cermin, semakin tak kukenal tapi sekaligus semakin kukenal..lahir dan batin. Aku melihat setan dan malaikat dalam tajamnya perjalanan tatapan mata ku kedalam nya

Tuhan, kau tak sekedar ada untuk mengharapkanku menjadi PENGECUT akan dosa
Dan kau tak sekedar ada untuk mengharapkannku menjadi RAKUS akan hitungan pahala
Aku hanya akan melangkah dengan doa
Melangkah dengan rasa dari diri yang terdalam dimana kutemukan dan kusimpan tuhan
Untuk surga dan neraka ku sendiri di bingkai waktu lainnya kelak nanti

Semua terus berputar, berjalan cepat, bergulir, mengalir tanpa mampu kutangkap apalagi kupegang atau kusentuh dengan tangan bahkan dengan mata sekalipun. Takkan pernah mampu.

Persis seperti setelah chaos, dalam sunyi disana tuhan berdiri memapahku..disana aku ‘hidup’ dan tangis ini adalah caraku memegangnya, mencoba memeluknya demi menebus kerinduan yang sudah terlalu lama dan membawanya tertidur, dalam isak. Dan disana pula muncul lagi bingkai waktu yang sempat muncul beberapa malam sebelum malam ini.

Aku tak pandai bertutur, tapi rasa ini begitu kuat menyatu, dalam isak dan senyum ketulusanku memandang langit pagi ini.. Aku mencintaiMu.

perjalanan indah (menuju shunia)

Lelah tak habis jiwa terus mencari
Walaupun ia juga akhirnya menyadari
Bahwa diluar dan didalam diri
Hanya sebatas kulit tipis satu mili

Perlahan ke dalam mencari
Begitu menusuk rasa dan nafsu diri
Sedang diluar batas kulit tubuh ini
Ternyata hampa sekaligus penuh uraian tak pasti

Bagai gerbang untuk bertemu diri
Saat jiwa bermain dan menyelam dalam sunyi
Disanalah jawaban atas semua
Yang berbatas dan Yang tak terhingga