Kamis, 04 Desember 2008

rindu

Aku merindu

Rindu, lebih dari seperti melihat punggung kekasih yang pergi berjalan meninggalkan diri setelah ciuman perpisahan dan pelukan hangat serta tatapan mata bermakna ‘ingatlah aku’

Rindu, lebih dari seperti ibu yang lama tidak bertemu anaknya, melanglang buana dan hanya bermodal foto sang anak bertahun-tahun dalam dompet lusuhnya

Rindu, lebih dari seperti bulan yang tak pernah bertatap muka dengan matahari disiang bolong dan selalu saja kejar-kejaran dengan waktu hanya untuk menikmati biasnya di subuh buta, atau pada senja hari, saat ia seakan dilalap lautan luas.

Rindu, lebih dari sekedar ingin bertemu muka dengan Tuhan, ngobrol dan bertanya banyak hal, seperti berdoa yang menengadah pandangan ke atas langit seakan Dia ada disana, hanya ingin merasakan dia begitu dekat, sedekat tulang rusuk dan paruparu. Sedekat darah dan daging.

Diluar dan didalam diri, ditarikan nafas dan hembusan, diurat nadi dan urat balik. Di setiap langkah maju dan mundur. Didinding jiwa dan dipagar hati.

Rindu takkan pernah ada jika tak pernah bertemu

Aku merindu aku

Rindu yang begitu ada, membuatku lapar dan haus selalu
Rindu merasakan yang pernah kurasakan disatu bingkai waktu yang lalu

Yang tak pernah kusentuh pada apa
Dan belum juga kutahu pada siapa

Jangan tinggalkan aku lagi, seperti saat-saat aku hanya mampu mencicipi
Dan kau pergi
Jangan biarkan aku sendiri, seperti jendela jernih namun begitu rapat terkunci
Dan kau menghilang lagi

Aku merindu tuhan

Dan alampun berputar
Tanpa suara, tanpa udara
Hanya bingkai – bingkai waktu yang terbungkus keajaiban-keajaiban hidup
Dari begitu luasnya dunia diluar alamsemesta
Dari begitu dalamnya dunia didalam jiwa

Tak satupun kebetulan yang kebetulan, semua jawaban ada sekaligus tiada.
berubah oleh sang bingkai waktu dan mengalir dalam jiwa, tak pernah putus

hanya isyarat

kucoba semua segala cara
kau membelakangiku kunikmati bayangmu
itulah saja cara yang bisa
untukku menghayatimu
untuk mencintaimu

sesaat dunia jadi tiada
hanya diriku yang mengamatimu dan dirimu yang jauh disana
kutakkan bisa lindungi hati
jangan pernah kautatapkan wajahmu
bantulah aku semampumu

rasakanlah isyarat yang sanggup kau rasa tanpa perlu kau sentuh
rasakanlah harapan impian yang hidup hanya untuk sekejap
rasakanlah langit, hujan, detak, hangat, nafasku
rasakanlah isyarat yang mampu kau tangkap tanpa perlu kuucap
rasakanlah air, udara, bulan, bintang, angin, malam, ruang, waktu, puisi

itulah saja cara yang bisa

(dewi lestari)

Meminjam lagu dewi, untuk ‘bicara’ pada diri sekaligus tuhan, betapa aku rindu.
Kupersembahkan dengan sepaket ember perak berisi airmata satu malam

Senin, 01 Desember 2008

sahabat gila

Aku menulis untuk sahabat gila, orang yang berani menilai, menghakimi, dan berani mengingkarinya, namun tetap saja, ia pun berani untuk menerima segala protes diri ini atas segala penilaiannya, semua penghakimannya, dan ingkarannya.

Aku begitu mampu menampar wajahnya untuk menyadarkannya saat aku merasa ia tersesat, dan lucunya seorang sahabat akan berani kembali menamparku untuk tidak terima, dan beberapa saat kemudian tersadar dan berterima kasih sudah menamparnya.

Aku begitu mampu menangis berember-ember didepannya, tanpa peduli wajahku yang bisa tiba-tiba cemong karena airmata, dan tanpa belaskasihan sahabat masih saja mampu menunjuk-nunjukku tepat didepan mata dan mengataiku ‘bego’ dan bilang ‘apa gue bilang’ dengan mata berkaca-kaca, airmata yang mulai turun dipipinya dan lengan yang siap terbuka lebar untuk memelukku dan berkata ‘sudahlah, lo minum dulu ya’

satu malam telanjang di bukit dingin

Bukit yang lengang, kobaran api membias diwajahku
Dingin malam terkatung-katung dalam nafas ku yang penuh dan kaku

Hawa yang tertawa menikmati sayatan daging tubuhku
Menusuk tulang dan berseluncur dalam sumsumku yang beku

Aku halus gemetar, semakin halus dan sangat terasa
Aku terkapar, berselimut tebal oleh rasa haus yang mendera

Kulitku terbakar, walau dingin tak akan mengampuni
Berteman rasa lapar, alampun kuhadapi dengan senang hati

Awan turun membungkus rapat menyusuri seluruh ragaku
Menarilah wahai embun malam diiringi musik deru nafasku

Masuklah perlahan kedalam sendi-sendi nan lembut
Kupejamkan mata & kuserahkan raga dalam pekatnya kabut

Tetesan air mulai menyentuh kulit, sejuk membasahi mata hatiku
Jingga mulai meniti langit, embun bergayut menuruni sukmaku

Merangkak mentari menanjak hari, memecah hitamnya rasa sakit dalam jiwa
Aku menangis dalam riang hati, merindu kilauan malam tadi yang telah tiada

Kenikmatan derita dalam malam, menderita kenikmatan dalam diam
Keindahan rindunya pada malam, kerinduan indahnya saat diam