Senin, 01 Desember 2008

satu malam telanjang di bukit dingin

Bukit yang lengang, kobaran api membias diwajahku
Dingin malam terkatung-katung dalam nafas ku yang penuh dan kaku

Hawa yang tertawa menikmati sayatan daging tubuhku
Menusuk tulang dan berseluncur dalam sumsumku yang beku

Aku halus gemetar, semakin halus dan sangat terasa
Aku terkapar, berselimut tebal oleh rasa haus yang mendera

Kulitku terbakar, walau dingin tak akan mengampuni
Berteman rasa lapar, alampun kuhadapi dengan senang hati

Awan turun membungkus rapat menyusuri seluruh ragaku
Menarilah wahai embun malam diiringi musik deru nafasku

Masuklah perlahan kedalam sendi-sendi nan lembut
Kupejamkan mata & kuserahkan raga dalam pekatnya kabut

Tetesan air mulai menyentuh kulit, sejuk membasahi mata hatiku
Jingga mulai meniti langit, embun bergayut menuruni sukmaku

Merangkak mentari menanjak hari, memecah hitamnya rasa sakit dalam jiwa
Aku menangis dalam riang hati, merindu kilauan malam tadi yang telah tiada

Kenikmatan derita dalam malam, menderita kenikmatan dalam diam
Keindahan rindunya pada malam, kerinduan indahnya saat diam

Tidak ada komentar: