Minggu, 16 November 2008

dinding telur

Sejak lahir aku seperti memegang telur kaca yang kubawa selama hidup kemana-mana, yang tadinya sebesar telur cicak, telur kura-kura, telur puyuh, telur ayam kampong, telur ayam negri dan membesar terus membesar mungkin sebesar telur naga, sejalan dengan usia ku yang juga bertambah. Setiap hari kusayang-sayang, kumandikan dan ku lap dengan hati- hati hingga ia berkilap sampai-sampai aku bisa berkaca didinding nya.

Begitu indahnya si telur ini, hingga kapanpun aku berkaca seperti apapun wajahku saat berkaca, saat senang, sedih, takut dan marah, aku hanya mampu melihat diri lewat dinding cangkang telurku..hingga aku berkata inilah ‘aku’ saat refleksinya menyilaukan mataku..ya telurku, semakin besar aku bisa merasakan telur ini adalah kepunyaanku, aku, karena akulah yg membesarkannya selama hidupku.

Namun ada saat dimana telur semakin besar hingga tak mampu ku gotong lagi dengan kedua tgnku, tak mampu lagi kugendong di punggungku, dan tak mampu lagi kumandikan, sehingga ia tak lagi berkilau seperti dulu, dan cangkangnya menjadi cermin buram yang tak siap kuterima, aku terus mencari diriku dicermin cangkangnya, seperti biasanya.

Lama-lama aku muak hingga pada titiknya, mengapa aku harus selalu membopong nya dipundakku? Siapa yg memberikanku telur ini saat aku dilahirkan pada awalnya? Kenapa haruis kumandikan dan ku lap setiap hari? Begitu tergantungnya aku dengan keberadaanya. Aku letih, sesak napas, tak kuat berjalan membawa begitu besar telur, yang saat berjalanpun harus kubopong dengan hati-hati, karena kalau jatuh/ terbentur sedikit saja ia akan tergores dan takkan seindah dulu, dan takkan bisa lagi dengan jelas kulihat mukaku dicangkangnya yang sudah tergores.

Mungkin orang tuaku juga akan malu apabila telur ini menjadi jelek dan tak indah dilihat. Karena kata org tua ku, semua org memegang telur,
‘Kau bukan anakku, apabila kau tidak bisa menjaga keindahan telur yang diwariskan untukmu nak’
‘Ibu..apa tidak boleh aku memilih telurku sendiri? Apa isi telur yang diwariskan ini untukku? Apakah suatu hari ia akan menetas, ibu?’
‘Ya iya mungkin akan menetas nak dan isinya ibu pun belum tahu. Dan kapan ia akan menetas sudah diatur sedemikian rupa, tugasmu hanya menjaganya, semua sudah ada yang mengatur nak, jgn terlalu kau pikirkan apa isinya, dan kapan ia menetas atau akan menetas atau tidak, yang penting jalankan tugasmu untuk membawanya dan merawatnya seperti yang ibu ajarkan padamu sejak kau lahir anakku, sebaliknya telur ini akan menjagamu, kau akan mampu melihat dirimu seperti itulah dirimu di dinding cermin cangkangnya’
‘Tapi ibu apa iya mukaku berpletat pletot seperti ini bentuknya? Lihatlah didindingnya bu, ibu juga melihat wajahku kan? Apa mukaku yang kau tatap saat ini sama dengan refleksi yang kulihat didinding cangkangnya?’
‘Nak, kau mempertanyakan hal yang tak dapat kujelaskan, percayalah, telur ini adalah yang terbaik yang bisa mendampingi hidupmu, kalau kau memilih telur yang lainpun takkan kau temukan bentuk wajahmu yang sesungguhnya seperti wajah yang kulihat saat kau menatapku, percayalah telur ini yang terbaik untukmu’
‘Tolong ibu, aku hanya ingin melihat wajahku persis seperti yang kau lihat saat ini, aku ingin melihat diriku apa adanya’
‘Tidak perlu nak, kau akan selamat selama hidup hingga kau mati asal kau ikuti apa yang ibu mu ajarkan kepadamu, kita hidup hanya sekali, jangan kau sia-sia kan untuk kau rusak nak, kau akan dilaknat oleh pemberi telur ini, apabila kau tak tahu diri dan bersyukur karena kau terlahir dengan telur indah ini, karena kau memang anakku’
‘Siapa yang memberi telur ini ibu? Mengapa begitu merepotkan, merepotkan aku untuk merawatnya, dan merepotkan dirinya sendiri karena membagikan telur pada semua orang’
‘Jaga kata-katamu nak, setiap kali kau berkata begitu, telur ini akan tergores tajam dan kau akan semakin kehilangan wajahmu’
‘Aku tidak takut ibu, ini bukan mukaku yang sebenarnya bukan?’
‘Ya mungkin memang bukan tapi tanpanya kamu tak bisa tahu mana telur yang terbaik untukmu, kecuali kau cobai semua telur lalu kau dapatkan yang menurutmu itulah wajahmu dan kau mengganti telurmu’
‘Oh apa umurku cukup untuk mencobai semuanya ibu? Aku rasa tidak, aku sudah tau jawabnya dan takkan ada telur yang cocok dengan mukaku yang sebenarnya ibu..karena semua telur berbentuk bulat dan dindingnya cembung, aku takkan mampu melihat mukaku yang sebenarnya dicangkang telur kaca manapun, karena tak ada cermin datar didindingnya’
‘Ah anakku, kau semakin pintar saja, siapa dulu dong ibumu..? haha’
‘Haha ibu, bukan aku ingin mengecewakan dirimu yang kucintai, bukan pula aku tidak mencintai telur yang sudah begitu nyaman bertengger ditubuhku dan kurawat hingga sebesar ini, tapi keinginanku untuk melihat bentuk wajahku yang sebenarnya tak mampu kubendung lagi, dan apabila tak kudapatkan cermin datar pada dinding telur ini, aku memilih untuk membebaskan diri dari segala kewajiban untuk merawatnya, aku membantingnya, menghancurkannya, menghempaskannya ke tanah yang keras, sekeras-kerasnya, hingga berkeping-keping cangkang terbelah dan pecah..untukku susun ulang bagai bermain puzzle, kutempelkan pada dinding langit hingga kudapatkan cermin kaca datar, walaupun terpatahpatah sekalipun namun refleksi ku yang sebenarnya berkilau dari masing-masing bagian nya, tak perlu kubawa kemana-mana karena langit akan membopongnya, tak perlu kumandikan karena awan akan menyiramnya dengan air hujan, embun malam akan membasuhnya dengan titisan uap air dan matahari akan mengeringkan basahnya, bulan akan menjaganya di malam hari, sesekali pelangi pun bisa bercermin disana dan burung-burung pun bertingkah narsis didepannya. Akan kuambil bagian-bagian penting saja dari pecahan yang berserakkan yang kuperlukan untuk melengkapi cerminnya dan apabila kutemukan bagian kosong dimana belum kutemukan refleksi bagian manapun dari wajahku di cermin itu, tak mengapa..karena aku begitu yakin akan kutemukan potongan refleksinya didalam jiwa, tak ada satupun cermin sempurna, dan tak ada satupun telur berdinding datar, namun kubiarkan alam menjagaku ibu, kau sudah terlalu letih merawatku, istirahatlah, nikmati hidupmu, tapi apa benar aku bukan anakmu?’

Tidak ada komentar: