Senin, 01 Desember 2008

sahabat gila

Aku menulis untuk sahabat gila, orang yang berani menilai, menghakimi, dan berani mengingkarinya, namun tetap saja, ia pun berani untuk menerima segala protes diri ini atas segala penilaiannya, semua penghakimannya, dan ingkarannya.

Aku begitu mampu menampar wajahnya untuk menyadarkannya saat aku merasa ia tersesat, dan lucunya seorang sahabat akan berani kembali menamparku untuk tidak terima, dan beberapa saat kemudian tersadar dan berterima kasih sudah menamparnya.

Aku begitu mampu menangis berember-ember didepannya, tanpa peduli wajahku yang bisa tiba-tiba cemong karena airmata, dan tanpa belaskasihan sahabat masih saja mampu menunjuk-nunjukku tepat didepan mata dan mengataiku ‘bego’ dan bilang ‘apa gue bilang’ dengan mata berkaca-kaca, airmata yang mulai turun dipipinya dan lengan yang siap terbuka lebar untuk memelukku dan berkata ‘sudahlah, lo minum dulu ya’

Tidak ada komentar: