Aku merindu
Rindu, lebih dari seperti melihat punggung kekasih yang pergi berjalan meninggalkan diri setelah ciuman perpisahan dan pelukan hangat serta tatapan mata bermakna ‘ingatlah aku’
Rindu, lebih dari seperti ibu yang lama tidak bertemu anaknya, melanglang buana dan hanya bermodal foto sang anak bertahun-tahun dalam dompet lusuhnya
Rindu, lebih dari seperti bulan yang tak pernah bertatap muka dengan matahari disiang bolong dan selalu saja kejar-kejaran dengan waktu hanya untuk menikmati biasnya di subuh buta, atau pada senja hari, saat ia seakan dilalap lautan luas.
Rindu, lebih dari sekedar ingin bertemu muka dengan Tuhan, ngobrol dan bertanya banyak hal, seperti berdoa yang menengadah pandangan ke atas langit seakan Dia ada disana, hanya ingin merasakan dia begitu dekat, sedekat tulang rusuk dan paruparu. Sedekat darah dan daging.
Diluar dan didalam diri, ditarikan nafas dan hembusan, diurat nadi dan urat balik. Di setiap langkah maju dan mundur. Didinding jiwa dan dipagar hati.
Rindu takkan pernah ada jika tak pernah bertemu
Aku merindu aku
Rindu yang begitu ada, membuatku lapar dan haus selalu
Rindu merasakan yang pernah kurasakan disatu bingkai waktu yang lalu
Yang tak pernah kusentuh pada apa
Dan belum juga kutahu pada siapa
Jangan tinggalkan aku lagi, seperti saat-saat aku hanya mampu mencicipi
Dan kau pergi
Jangan biarkan aku sendiri, seperti jendela jernih namun begitu rapat terkunci
Dan kau menghilang lagi
Aku merindu tuhan
Dan alampun berputar
Tanpa suara, tanpa udara
Hanya bingkai – bingkai waktu yang terbungkus keajaiban-keajaiban hidup
Dari begitu luasnya dunia diluar alamsemesta
Dari begitu dalamnya dunia didalam jiwa
Tak satupun kebetulan yang kebetulan, semua jawaban ada sekaligus tiada.
berubah oleh sang bingkai waktu dan mengalir dalam jiwa, tak pernah putus
Kamis, 04 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar