Malam itu
Mata kita saling memandang
Walau duduk bersebelahan dan tidak berhadapan
Malam itu
Terungkap semua alasan
Dari ucapan seribu kata lirih penuh keraguan
Aku hanya diam
Menunggu kata selanjutnya, seribu kata lagi
Kamu tidak diam
Meminta jawaban dari seribu kata yang tadi
Nafas ku melambat satu-satu
Entah apa yang membuatku bagai sehelai kain sutra yang ringan
Satu nafas untuk tiga detak jantungku
Tubuh ini bagai pertunjukan yang kunikmati dari kejauhan
Kamu terus memandangku dalam jeda bicara
Sepi seperti angin numpang lewat dan kita sendirian
Tatapan nanar mu memecah sunyi menjadi asa
Harapan atas pengertianku terus kamu panjatkan
Kamu kecewa. Teramat dalam hingga seribu kata itu mengalir deras
Aku kecewa. Teramat dalam hingga hati mati rasa dan air mata kering terkuras
Tak sadar diri ini bagai duduk sendiri
Tanpa ada kamu menghangatkan udara di ruang ini
Kita berbagi oksigen tanpa berbagi kata
Menembus kegelisahan yang merintih tanpa suara
Sampai di satu detik kamu tak sabar lagi
Pindah duduk dan berhadapan, bersimpuh sebatas pandang mata
Hingga kamu kunci pandanganku dan tak bergerak lagi
Masih dengan harapan akan derasnya aliran dari seribu kata
Aku tak bergeming, kamu pun berteriak
Sampai jantungku bergejolak
Satu nafas satu detak
Tapi tetap tak terucap bahkan tak satu kata dari seribu yang kamu harapkan
Kembali kunikmati nafas dan detak tubuhku
Kembali aku tak peduli
Dan kamu putuskan semua asa mu
Untuk berdiri dan pergi
Sesaat aku terganggu dengan pemandangan ini
Jangan berdiri, aku mohon kamu sudahi keraguan diri
Tapi kamu tetap berdiri, berjalan dan pergi
Aku menoleh dan punggungmu adalah pandanganku kini
Gerakan bola mata ku begitu cepat entah kenapa
Meneteskan setitik air disudut mata
Dan…..‘aku mencintaimu’….meluncur begitu saja.
Melebihi makna seribu kata.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar