Selama 30 thn saya dididik untuk mempercayai kemampuan dokter dan obat-obatan. Dan saya tidak melawan atau menentangnya. Sama sekali tidak. Saat ini pun tidak. Saya sangat percaya dengan kemampuan dokter menganalisa, kemampuan obat-obatan dalam menyembuhkan sakit, ringan maupun berat.
Yang saat ini saya sadari juga adalah betapa pikiran kita begitu percaya dengan perkembangan teknologi dan ditelannya bulat-bulat. Tak bisa dipungkiri karena begitulah hidup kita selama bertahun-tahun. Sakit kepala ya minum obat sakit kepala, batuk ya minum obat batuk, pilek ya minum obat untuk pilek, sakit uluhati dan perih ya minum obat maag, sakit perut buang-buang air ya minum obat anti diare, sakit gigi ya minum obat penahan rasa sakit, kalau semua sudah tidak mempan, alternative yang diambil ‘pikiran’ untuk cepat mengambil tindakan adalah ‘kayaknya obat-obat warung sudah tidak mempan, ini saatnya ke dokter, minta obat yang lebih manjur’, atau berapa banyak dari kita yang berpikir, ‘jangan coba-coba minum obat sembarangan, mending cepat-cepat ke dokter jadi benar-benar tahu sakit apa dan obat yang diminum lebih pasti, tidak coba-coba’, seberapa banyak juga dari kita yang punya sederet no.telpon dokter-dokter langganan di buku telpon emergency di rumah atau di phonebook pada hp, kalau-kalau dibutuhkan segera?, tidak bisa terelakkan bahwa sebagian besar dari kita punya respon yang sangat spontan seperti diatas saat sakit menimpa kita, atau sanak keluarga yang kita cintai, terutama anak.
Yang saat ini saya sadari juga adalah betapa pikiran kita begitu percaya dengan perkembangan teknologi dan ditelannya bulat-bulat. Tak bisa dipungkiri karena begitulah hidup kita selama bertahun-tahun. Sakit kepala ya minum obat sakit kepala, batuk ya minum obat batuk, pilek ya minum obat untuk pilek, sakit uluhati dan perih ya minum obat maag, sakit perut buang-buang air ya minum obat anti diare, sakit gigi ya minum obat penahan rasa sakit, kalau semua sudah tidak mempan, alternative yang diambil ‘pikiran’ untuk cepat mengambil tindakan adalah ‘kayaknya obat-obat warung sudah tidak mempan, ini saatnya ke dokter, minta obat yang lebih manjur’, atau berapa banyak dari kita yang berpikir, ‘jangan coba-coba minum obat sembarangan, mending cepat-cepat ke dokter jadi benar-benar tahu sakit apa dan obat yang diminum lebih pasti, tidak coba-coba’, seberapa banyak juga dari kita yang punya sederet no.telpon dokter-dokter langganan di buku telpon emergency di rumah atau di phonebook pada hp, kalau-kalau dibutuhkan segera?, tidak bisa terelakkan bahwa sebagian besar dari kita punya respon yang sangat spontan seperti diatas saat sakit menimpa kita, atau sanak keluarga yang kita cintai, terutama anak.
Apalagi kita sadari pula bahwa di zaman dengan segala macam kemajuan teknologi ini, cuaca pun semakin tidak menentu, akibat panas global, musim pun menjadi sulit untuk diprediksi, tiba-tiba hujan, tiba-tiba panas, bisa juga berbarengan saat panas hujanpun turun. Badan kita pun jadi terkaget-kaget. Kalau boleh berandai-andai mungkin segalanya akan lebih mudah kalau kita punya semacam ‘tombol’ adaptasi yang bisa di on/off secara manual atau otomatis untuk mendeteksi apabila ada bakteri/virus yang datang ke tubuh kita. Bebaslah kita dari sakit. Paling tidak dari sakit-sakit ringan sehari-hari.
Berapa banyak dari kita yang berani mengambil resiko untuk sesekali saja, bukan untuk berhenti percaya akan kemampuan dokter dan obat-obatannya untuk menyembuhkan penyakit, tapi hanya menambahkan satu lagi kepercayaan terhadap satu hal lainnya yang dapat menyembuhkan sakit, yaitu diri kita sendiri? Berapa banyak dari kita yang berani mengambil resiko ini? untuk ‘pikiran’ yang sudah begitu percaya akan dokter dan obat-obatan sepertinya ini mustahil. Maksudnya percaya dengan diri sendiri? Bukan untuk nekat atau menyiksa diri disaat sakit tapi untuk sekedar percaya bahwa secara naluri dan secara alami tubuh ini sudah sangat-sangat pintar luarbiasa, dengan system pertahanan tubuh yang begitu ajaib, mampu menyembuhkan dirinya sendiri, melawan segala macam virus dan bakteri yang masuk atau baru dalam tahap mengancam diri. Bukankah kita percaya pada Tuhan? Bahwa Dia telah menciptakan mahlukNya dengan system tubuh yang sangat sempurna. Tidak hanya tubuh yang diciptakan dengan sempurna, tapi pikiran yang mendukungnya pun mampu ambil bagian dari kesembuhan, suasana hati yang menyokongnya pun turut ambil bagian dalam kesempurnaan itu. Saya tidak sedang mencoba untuk menyangkal kehebatan analisa dokter dan keajaiban obat-obatan, karena saat ini pun mereka ada karena Tuhan mengijinkan mereka ada, untuk menyembuhkan.
Namun saya rasa tak ada salahnya untuk menengok sebentar saja kedalam diri, bahwa apapun yang ada diluar sana hanya akan berfungsi sempurna apabila kita mampu menyadari bahwa akar segalanya ada didalam diri dan semua yang ada diluar diri selalu siap pada ‘pos’ nya masing-masing untuk membantu diri ‘menyelesaikan’ tugasnya apabila dibutuhkan. Apapun bentuknya. Dokter, obat, psikolog, terapis, pengobatan alternative, dll. Kita hanya perlu menyadari pentingnya : kepasrahan yang total, ketulusan untuk merasakan, menerima rasa sakit dengan legowo, terima saja, rasakan saja, karena hanya itulah saja yang membuat kita menyadari bahwa sakit ini benar-benar ada dan berwujud pada tubuh kita. Ia hidup saat itu bersama kita. Sama sekali kita tidak menolak atau melawan. Hanya dengan itu satu-satunya jalan tubuh ini berani dan mau mencoba untuk melewati setiap detik rasa sakit, untuk mengijinkan tubuh ini bergerak maksimal menyembuhkan dirinya sendiri.
Berapa banyak dari kita yang berani mengambil resiko untuk sesekali saja, bukan untuk berhenti percaya akan kemampuan dokter dan obat-obatannya untuk menyembuhkan penyakit, tapi hanya menambahkan satu lagi kepercayaan terhadap satu hal lainnya yang dapat menyembuhkan sakit, yaitu diri kita sendiri? Berapa banyak dari kita yang berani mengambil resiko ini? untuk ‘pikiran’ yang sudah begitu percaya akan dokter dan obat-obatan sepertinya ini mustahil. Maksudnya percaya dengan diri sendiri? Bukan untuk nekat atau menyiksa diri disaat sakit tapi untuk sekedar percaya bahwa secara naluri dan secara alami tubuh ini sudah sangat-sangat pintar luarbiasa, dengan system pertahanan tubuh yang begitu ajaib, mampu menyembuhkan dirinya sendiri, melawan segala macam virus dan bakteri yang masuk atau baru dalam tahap mengancam diri. Bukankah kita percaya pada Tuhan? Bahwa Dia telah menciptakan mahlukNya dengan system tubuh yang sangat sempurna. Tidak hanya tubuh yang diciptakan dengan sempurna, tapi pikiran yang mendukungnya pun mampu ambil bagian dari kesembuhan, suasana hati yang menyokongnya pun turut ambil bagian dalam kesempurnaan itu. Saya tidak sedang mencoba untuk menyangkal kehebatan analisa dokter dan keajaiban obat-obatan, karena saat ini pun mereka ada karena Tuhan mengijinkan mereka ada, untuk menyembuhkan.
Namun saya rasa tak ada salahnya untuk menengok sebentar saja kedalam diri, bahwa apapun yang ada diluar sana hanya akan berfungsi sempurna apabila kita mampu menyadari bahwa akar segalanya ada didalam diri dan semua yang ada diluar diri selalu siap pada ‘pos’ nya masing-masing untuk membantu diri ‘menyelesaikan’ tugasnya apabila dibutuhkan. Apapun bentuknya. Dokter, obat, psikolog, terapis, pengobatan alternative, dll. Kita hanya perlu menyadari pentingnya : kepasrahan yang total, ketulusan untuk merasakan, menerima rasa sakit dengan legowo, terima saja, rasakan saja, karena hanya itulah saja yang membuat kita menyadari bahwa sakit ini benar-benar ada dan berwujud pada tubuh kita. Ia hidup saat itu bersama kita. Sama sekali kita tidak menolak atau melawan. Hanya dengan itu satu-satunya jalan tubuh ini berani dan mau mencoba untuk melewati setiap detik rasa sakit, untuk mengijinkan tubuh ini bergerak maksimal menyembuhkan dirinya sendiri.
Dan untuk membantunya yang perlu kita lakukan adalah menyadari betapa pentingnya istirahat, kalau boleh saya gambarkan kata-kata istirahat ini tidak hanya menyiapkan diri untuk tinggal dirumah atau tidur semata, melainkan istirahat total dalam arti yang lebih dalam, seperti istirahat pikiran, istirahat dari kesibukan sehari-hari yang biasa kita jalani, ada baiknya mematikan handphone, tidak terkontaminasi oleh siaran radio, televisi dan lain-lain, berikan waktu untuk tubuh ber istirahat dengan total. Cobalah untuk ber’sahabat’ dengan tubuh lebih intens. Guru yoga saya pernah berkata,"Respect your body, it has its own limit..listen to it carefully, you'll be surprise of what it can be". Dengarkan nafas, biarkan nafas panjang menjadi panjang dan nafas pendek menjadi pendek, apa adanya. Dengarkan tubuh kita ‘hidup’ dan sadari bahwa ia sedang ber’usaha’ untuk mengimbangi segala gangguan yang masuk ke dalam diri. Berikan ia asupan gizi yang ber’sahabat’, Guru meditasi saya juga seringkali mengingatkan untuk minum air putih lebih banyak dan tak apa untuk buang air kecil lebih sering, untuk menggantikan cairan yang lepas akibat energi yang terkuras secara fisik maupun psikis.
Kembali, karena rasa pasrah yang total tersebut, tubuh ini menerima ‘sinyal’ dari diri untuk mengijinkannya sakit, untuk kemudian mengijinkannya sembuh. Apabila kita cukup ‘peka’ untuk menyadari sinyal dari dalam, ada saatnya kita akan tahu, kapan tubuh ini membutuhkan bantuan dari luar, kapan ia akan melewati masa kritisnya untuk masuk kedalam penyembuhan. Kita hanya perlu siap dan memanjangkan antenna kesadaran saat ia benar-benar membutuhkan bantuan dari luar.
Lalu bagaimana kah cara melewati rasa ‘pasrah total’ itu? Kita hanya butuh rasa percaya total dengan tubuh ini, melepaskan segala bentuk pikiran yang justru memenjarakan kemampuan kita untuk ‘mendengarkan’ bahasa tubuh yang lain selain bahasa kata-kata yang dikeluarkan oleh pikiran, memang ini tidaklah mudah, karena pikiran menggunakan bahasa yang sama dengan bahasa yang kita gunakan sehari-hari, sedangkan bahasa tubuh yang lainnya, tidak ada kurikulum yang pasti, kita tidak tahu kapan ‘ujian’ dan kapan lulus ataupun kapan naik kelas. Tidak ada ‘liburan’ diantara semester nya. Tidak ada memori muka-muka guru bahasa tubuh. Yang ada hanya sekolahan bahasa pikiran. Bagaimana dengan bahasa hati? Pernahkah kita makan sekolahan untuk bahasa hati? Ya, mungkin pernah, saat kita menyadari kapan kita merasa marah, senang, sedih, kecewa, patah hati, cemas, kawatir, dll.
Tapi pertanyaan selanjutnya adalah, kapan terakhir kali kita benar-benar sadar dengan apapun yang kita rasakan? Sebagian besar dari kita begitu lihai untuk langsung ‘lompat’ ke tahap ‘merespon’ terhadap apapun yang kita rasakan, tanpa mencoba menyelami keberadaan ‘rasa’ itu dengan benar-benar merasakan. Jangan-jangan yang kita sadari selama ini sebagai ‘rasa’ adalah justru ‘respon’ nya semata. Seperti ngomel-ngomel saat marah itu hadir. Kita baru sadar kalau kita sedang merasa marah saat mengeluarkan kata-kata kasar dan omelan. Atau menangis meraung-raung saat kita merasa sedih, kita baru sadar kalau merasa sedih saat kita bersimbah airmata. Atau tersenyum puas atau tertawa terbahak-bahak, adalah respon yang sangat cepat terjadi pada tubuh saat kebahagiaan kita sadari sedang nemplok di hati. Atau mungkin respon dengan cepat mengambil obat sakit kepala saat rasa sakit mendera hati, ya hati, saya tidak sedang salah ketik. Sakit kepala adalah bisa jadi merupakan respon pertama dari tubuh saat mungkin saja rasa sedih, tidak enak, kawatir, sedang mendera hati. Namun kita tidak cukup pintar untuk mencerna bahasa hati. Boro-boro bahasa tubuh. Yang ada satu-satunya yang kita mengerti adalah bahasa pikiran ‘wah, sakit kepala, minum obat sakit kepala biar sembuh’. Dan ‘sembuh’lah kita. Padahal dengan hanya mampu menyadari saja bahwa kesedihan, rasa tidak enak, maupun kawatir tadi benar-benar ‘ada’ bersama kita saja, dengan mengijinkan dia ada saja, kita pun mengijinkan kesembuhan bergerak sendiri untuk kita. Tanpa obat sakit kepala.
Ini hanyalah sekilas tulisan untuk berbagi dan merenung sejenak, sedalam apa kita mampu melepaskan segalanya, tulus dan pasrah atas apapun kenikmatan yang kita rasakan disetiap momen dalam hidup, semua adalah pemberian dari Nya.
Lalu bagaimana kah cara melewati rasa ‘pasrah total’ itu? Kita hanya butuh rasa percaya total dengan tubuh ini, melepaskan segala bentuk pikiran yang justru memenjarakan kemampuan kita untuk ‘mendengarkan’ bahasa tubuh yang lain selain bahasa kata-kata yang dikeluarkan oleh pikiran, memang ini tidaklah mudah, karena pikiran menggunakan bahasa yang sama dengan bahasa yang kita gunakan sehari-hari, sedangkan bahasa tubuh yang lainnya, tidak ada kurikulum yang pasti, kita tidak tahu kapan ‘ujian’ dan kapan lulus ataupun kapan naik kelas. Tidak ada ‘liburan’ diantara semester nya. Tidak ada memori muka-muka guru bahasa tubuh. Yang ada hanya sekolahan bahasa pikiran. Bagaimana dengan bahasa hati? Pernahkah kita makan sekolahan untuk bahasa hati? Ya, mungkin pernah, saat kita menyadari kapan kita merasa marah, senang, sedih, kecewa, patah hati, cemas, kawatir, dll.
Tapi pertanyaan selanjutnya adalah, kapan terakhir kali kita benar-benar sadar dengan apapun yang kita rasakan? Sebagian besar dari kita begitu lihai untuk langsung ‘lompat’ ke tahap ‘merespon’ terhadap apapun yang kita rasakan, tanpa mencoba menyelami keberadaan ‘rasa’ itu dengan benar-benar merasakan. Jangan-jangan yang kita sadari selama ini sebagai ‘rasa’ adalah justru ‘respon’ nya semata. Seperti ngomel-ngomel saat marah itu hadir. Kita baru sadar kalau kita sedang merasa marah saat mengeluarkan kata-kata kasar dan omelan. Atau menangis meraung-raung saat kita merasa sedih, kita baru sadar kalau merasa sedih saat kita bersimbah airmata. Atau tersenyum puas atau tertawa terbahak-bahak, adalah respon yang sangat cepat terjadi pada tubuh saat kebahagiaan kita sadari sedang nemplok di hati. Atau mungkin respon dengan cepat mengambil obat sakit kepala saat rasa sakit mendera hati, ya hati, saya tidak sedang salah ketik. Sakit kepala adalah bisa jadi merupakan respon pertama dari tubuh saat mungkin saja rasa sedih, tidak enak, kawatir, sedang mendera hati. Namun kita tidak cukup pintar untuk mencerna bahasa hati. Boro-boro bahasa tubuh. Yang ada satu-satunya yang kita mengerti adalah bahasa pikiran ‘wah, sakit kepala, minum obat sakit kepala biar sembuh’. Dan ‘sembuh’lah kita. Padahal dengan hanya mampu menyadari saja bahwa kesedihan, rasa tidak enak, maupun kawatir tadi benar-benar ‘ada’ bersama kita saja, dengan mengijinkan dia ada saja, kita pun mengijinkan kesembuhan bergerak sendiri untuk kita. Tanpa obat sakit kepala.
Ini hanyalah sekilas tulisan untuk berbagi dan merenung sejenak, sedalam apa kita mampu melepaskan segalanya, tulus dan pasrah atas apapun kenikmatan yang kita rasakan disetiap momen dalam hidup, semua adalah pemberian dari Nya.
Setiap kali saya mendengar orang berkata ‘saya pasrah saja’ atau ‘semua saya terima dengan tulus’ atau ‘saya ikhlas menerima karena Tuhan’ disanalah menurut saya batasan kemampuan diri dengan sendirinya terbentuk dan kepasrahan jadi begitu dangkal maknanya. Setidaknya untuk saya, pasrah tidak dapat tersentuh oleh bahasa kata-kata, ia hanya ada untuk dilakukan dengan sepenuh hati, segenap pikiran dan sekujur tubuh.
Dan rasa sakit adalah rasa belaka, sama dengan rasa-rasa lainnya yang mampir nemplok dihati sebentar saja, sebentar memang sangat subyektif, tapi yang pasti ia akan berganti, hanya dengan mengijinkannya ada bersama kita. Untuk memandang dan menyadari hidup kita secara lebih baik dan jelas.
Diri, membutuhkan kesabaran dan kepercayaan
‘Apakah engkau cukup sabar untuk menanti
Sampai pikiranmu tenang, dan air menjadi jernih?
Tahankah engkau untuk tetap tak bergeming
Sampai tindakan yang benar datang dengan sendirinya?’
Buddha, Dhammapada.
Dan rasa sakit adalah rasa belaka, sama dengan rasa-rasa lainnya yang mampir nemplok dihati sebentar saja, sebentar memang sangat subyektif, tapi yang pasti ia akan berganti, hanya dengan mengijinkannya ada bersama kita. Untuk memandang dan menyadari hidup kita secara lebih baik dan jelas.
Diri, membutuhkan kesabaran dan kepercayaan
‘Apakah engkau cukup sabar untuk menanti
Sampai pikiranmu tenang, dan air menjadi jernih?
Tahankah engkau untuk tetap tak bergeming
Sampai tindakan yang benar datang dengan sendirinya?’
Buddha, Dhammapada.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar