Seperti di halte trans hidup ini,
Berdiri diam didepan pintu,
Antri bersama orang lain yang menunggu bis trans tiba,
Namun saat pintu terbuka aku memejamkan mata menikmati hawa sejuk dari dalam bis,
Kadang terhempas oleh tubuh-tubuh yang meninggalkan bis trans maupun tubuh-tubuh yang ingin memasukinya.
Tapi aku tetap tinggal, berdiri diam didepan pintu
Hingga pintu menutup lagi dan bis berjalan pergi
Terus begitu setiap kali.
Saat letih tiba, aku meninggalkan halte dan berjalan terhuyung kembali ke rumah
Bersatu dengan segala macam warisan cinta
Namun menit-menit keheningan kembali menyemangati ‘kepergianku’,
Dan tibalah saat aku kembali ke halte trans,
Mengulang hari.
Menikmati hawa sejuk dari dalam bis,
Memejamkan mata,
Sekali lagi, tanpa bergeming, berdiri saja, sudah nikmat rasanya,
Untuk sekedar merasakan,
Bahwa aku hendak ‘pergi’…..
Halte trans.
Dimana semua orang berkerumun sesak,
Namun tak satupun peduli.
Masing-masing berdiri, bersentuhan beberapa detik, lalu terpisah lagi.
Bagaikan tanpa hati, hanya tersenyum dan kembali tak peduli.
Ada juga yang berkelompok
Bersenda gurau
Untuk berpisah entah di halte yang mana
Mereka tak perlu berkata kemana,
Mereka hanya tahu satu sama lain hendak kemana.
Tapi hanya dalam hati, tak perlu berucap.
Toh dalam perjalanan tak ada yang tahu dihalte mana mereka akan berhenti,
Toh dimana mereka berhenti pun tak ada yang peduli.
Kaki ini begitu berat melangkah,
Begitu enggan masuk ke dalam bis.
Padahal hanyalah itu saja cara,
Untuk merasakan hawa sejuk didalam bis yang langsung bersentuhan dengan tubuh ini.
Namun aku memilih diam.
Didepan pintu bis seperti biasanya.
Aku belum bosan!
Untuk terhuyung kembali kerumah.
Dan untuk kembali berdiri didepan pintu ini,
Mencicip remah nikmatnya hawa sejuk menghempas wajah ini,
Tanpa beranjak ‘pergi’.
Bis trans datang dan pergi,
Datang dan pergi lagi.
Datang dan pergi,
Datang dan pergi lagi.
Tak pernah putus.
Tiap kali aku pulang, kerumah….
Tiap kali aku siap, untuk pergi lagi…
Tiba-tiba aku letih,
Frustasi ingin pulang, entah kemana.
Menangis dalam halte
Ber-ember-ember air mata perih
Membuatku muak semuaknya akan semua tanya dan kenapa
Aku jadi enggan pulang ke rumah,
Bermalam-malam ku tetap berkeras berdiam di halte,
Hingga rasanya begitu nyaman,
Dan tempat ini bagai ‘beranda’ku untuk berpulang.
Malam ini aku meninggalkan halte untuk ‘pergi’ ke rumah..
Hingga esoknya aku kembali ke halte.
Bukan untuk ‘pergi’ lagi,
Tapi untuk menunggu……
Melangkah untuk ‘pulang’.
Semua rasa jadi berputar balik,
Saat waktu yang berjalan kuhabiskan lebih banyak didalam halte,
Sembari menikmati hidup dari hawa sejuk sesaat dari pintu terbuka,
Untuk menjemputku ‘pulang’…
Busway ini jurusan Tuhan,
Dan kubawa jiwa turut serta,
Untuk segera pulang menemuinya,
Naik bis dan Berhenti lagi,
Di halte manapun.
Memulai lagi satu chapter ‘menunggu’,
Hingga kaki sang pembawa jiwa mampu melangkah lagi,
Naik bis trans untuk pulang.
Dan berhenti lagi dihalte manapun.
Sampai jiwa tak pernah letih,
Untuk menunggu menemukannya,
Dan tak pernah lahir.
Dan tak pernah mati.
Merasakan hidup hanya dari hempasan hawa sejuk dari dalam bis trans,
Menghargai kemanapun kaki sang pembawa jiwa pergi ke rumah yang lain.
Saat diri melangkah keluar bis trans dengan kaki yang baru,
Tiba di halte selanjutnya,
Hanya untuk kembali pulang…
12/12/08
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

1 komentar:
wah...cucok tulisannya,sewaktu baca aku trs membayangkan busway2 itu,orang2nya yg bergerumunan,&halte2 yang semakin hari semakin penuh sesak,serta mukaku yg semakin lusuh antah brantah ga karuan ketika mnunggunya.sama seperti jagad raya ini semakin esok semakin banyak saja yg menghuninya tanpa mereka tau akan kehabisan bus yg akan membawanya pulang
Posting Komentar