Mendapatkan – melepaskan
Memiliki – kehilangan
Tiba-tiba saja saya teringat sosok seseorang. Kediamannya di kaki gunung dan mencari nafkah turun ke kota, mengajar yoga dan kembali pulang. Sangat sederhana
Dia pernah berkata, “biarkan saja, kalau sudah bukan waktunya jadi kepunyaan saya, ya sudah, mau apa lagi?, nanti akan ada lagi yang datang, menggantikannya, kadangkala bisa lebih, lebih bagus, lebih banyak. Kadang juga ala kadarnya. Entah dengan cara apa dan bagaimana, beberapa waktu menjadi kepunyaan saya. Sebentar atau lama, itu tak masalah, hanya masalah waktu. Toh apapun yang ada dalam hidup tak ada yang selamanya. Akan berakhir, berubah, berganti. Terus begitu. Dijalani saja, nikmati saja. Kebahagiaan lebih mudah dicicipi”
Sekilas ada nada kepasrahan dan kesan gampang menyerah, tapi rasanya saya mendapatkan kekuatan yang penuh secara bersamaan. Energi keikhlasan yag luar biasa yang mengalir dalam kata-katanya. Ia terdengar begitu lemah dan begitu kuat dalam waktu yang sama.
Betapa mudahnya menjalani hidup, betapa bahagia yang sempurna dan benar-benar original dapat dirasakan apabila kita mampu menerima dan melepas sesuatu tanpa menggenggam/ terjerat dalam cengkeram rasa ‘kepemilikan’. Apapun bentuknya.
Contoh lain adalah counter lost and found di bandara atau di mall atau di tempat umum lainnya. Lost adalah kehilangan. Found adalah ditemukan, didapatkan (kembali). Yah.kembali kedalam euphoria semu yang semakin mempererat jeratan rasa kepemilikan pastinya. Counter ini ternyata bukan ide yang baik untuk mendidik kita mempertebal rasa ikhlas, pasrah dan menerima rasa kehilangan yang nyata. Namun apabila suatu barang dinyatakan hilang lalu ditemukan kembali, mungkin bisa dikategorikan ‘masih waktunya’ kepunyaan pemiliknya. Tapi rasanya hanya makin mempertebal rasa kepemilikan sekaligus mempertebal rasa kehilangan saja pada akhirnya. Jadi Lost dan Found..adalah 1 titik yang sama, dua kata yang punya rasa sama. Saat kita kehilangan sesuatu disanalah kita menemukan kepasrahan. Saat kita merasa menemukan sesuatu, bersiaplah untuk menghadapi kehilangan.
Sekilas kita akan merasa bahagia, saat mendapatkan sesuatu menjadi ‘milik’ kita. Tapi dibaliknya… disaat itu kita merasa memiliki, di detik yang sama tersembunyi rasa kehilangan yang menjadi satu paket tanpa kita sadari. Sesederhana itu, tanpa bisa mengelak, tanpa bisa dihindari, dan rasa kehilangan itu akan keluar pada saatnya nanti. Ya dia akan keluar, dijamin.
Terkadang dalam satu paket itu, kita memang belum tahu apa isi keseluruhannnya. Malah banyak sekali dari kita yang tidak menyadarinya sama sekali dan hanyut oleh sukacita me’milik’inya. Atau mungkin malah pura-pura tidak tahu, atau bisa juga tidak peduli, bahwa apapun yang kita miliki akan ada batas waktu kadaluwarsa nya. Bisa hilang, lepas, pergi, rusak, habis, mati atau berhenti jadi milik kita dan menjadi milik orang lain. bagaimanapun caranya, apapun penyebabnya.
Sebut saja..apa sajalah. Barang apapun yang kita miliki akan ada batas waktu sampai rusak, hilang, habis, dipinjam orang dan tak kembali, diambil orang, dicuri, apapun. Begitu juga dengan uang. Uang datang dan pergi, sebesar apapun yang datang akan pergi juga pada waktunya, biarpun ditabung, biarpun nanti jadi warisan, apapun, intinya tak selamanya uang tersebut kita miliki, pun tinggal masalah waktu. Kapan rasa kehilangan itu akan keluar, kapan saatnya? Kita pun tak tahu. Semua masih tersimpan dalam paket.
Melepaskan dan kehilangan memang hampir sama, hanya rasa-nya saja mungkin yang berbeda. Melepaskan lebih diwarnai dengan rasa pasrah dan Kehilangan seringkali lebih didominasi oleh rasa sakit. Walaupun memang tidak semua kehilangan disertai rasa sakit, atau mungkin kadarnya bisa berbeda-beda, tergantung dari rasa memiliki yang kita rasakan terhadapnya. Semakin besar rasa memilikinya, apapun itu, maka semakin besar juga rasa kehilangan yang timbul pada akhirnya.
Bagaimana dengan hubungan? Sama saja, putus, cerai, perpisahan, baik-baik ataupun tidak, bahkan kematian, semua akan selesai, kehilangan, melepaskan, bagaimanapun dengan cara apapun. Namun terkadang kita tidak sesiap saat kita menerima, mendapatkan ataupun memilikinya. Rasa sakit yang mengintai sejak awal, terkadang membuat kita kaget, walaupun sebenarnya kita sudah tahu bahwa manusia pun tak luput dimakan usia.
Jadi sebenarnya ada baiknya untuk menyadari sejak kini bahwa apapun yang kita miliki akan hilang, lepas ataupun pergi, mungkin ini akan membantu kita untuk overcome rasa sakit yang timbul, dengan tidak terlalu merasa bahwa apapun yang kita miliki saat ini adalah untuk selamanya. Atau bisa juga menhilangkan euphoria yang berlebihan saat merasa mendapatkan, menerima atau memiliki sesuatu. Atau yang lebih hmm beriman dapat mempertebal rasa ikhlas dan menerima ‘takdir’ dengan lapang dada dan besar hati.
Namun dibalik semua ini, yang membuat segalanya terasa menjadi berat adalah waktu. Dalam beberapa bagian kedepan, ‘waktu’ akan menjadi target cacimaki saya. Sebagai ‘tertuduh atau tersangka’ atas semua rasa sakit yang diderita oleh seluruh umat manusia didunia. Terkadang kadar rasa sakit akibat melepaskan dan kehilangan sesuatu / seseorang ditentukan oleh waktu. Bayangkan semakin lama kita memiliki semakin sakit pula rasanya saat kehilangan. Dan bagaimana kita tidak merasa memiliki kalau waktu tidak menyediakan kita waktu yang cukup banyak dan panjang untuk merasa mengenal seseorang atau sesuatu sebelum akhirnya mendapatkan atau memilikinya. Kebutuhan manusia pun selalu ditentukan oleh waktu, sejalan dengan waktu kebutuhan kita bertambah dan bertambah, dan mengakibatkan kita begitu merasa perlu memiliki ini itu berdasarkan kebutuhan kita. Bayangkan kalau tidak ada waktu, apa kita merasa butuh ini itu? Apa kita merasa perlu untuk memiliki ini itu, membelinya, menggunakannya, hanya untuk kehilangan? Sungguh waktu memang kejam, tak beri ampun sedikitpun atas rasa kehilangan yang kita derita. Malah terkadang waktu juga terus menerus menyiksa kita dengan waktu yang panjang untuk merasakan kehilangan tadi. Berbulan, bahkan bertahun, rasa sakit masih bertengger karena kehilangan.
Biarpun begitu, ia memberikan kita waktu untuk sembuh. Time will heal. Yeah right, itu mungkin hanya cara waktu minta maaf pada kita. Kita dipermainkan oleh waktu. Dengan begitu waktu bisa dipandang bagai pahlawan penolong dan menghilangkan rasa sakit akibat kehilangan. Wait! Meng’hilang’kan rasa sakit. Bahkan rasa sakit akibat kehilangan pun akan hilang, pergi dan lepas. Waktu memang hebat. Ia bisa menggenggam rasa dan hidup dalam setiap nafas manusia. Tapi cukup. Cukup sudah caci maki atas waktu. Manusia juga punya rasa. Persalahkan itu saja. Biar adil.
Manusia tanpa rasa, bukanlah manusia. Namun terkadang kita lupa apapun rasa yang ada hanyalah permainan hati, 1 belah pihak saja, dimana pikiran? Dimana jiwa? Sampai dimana kesadaran kita akan semua ini, apabila hanya berpihak pada hati. Rasa yang kita miliki pun juga akan pergi, sama saja, seperti barang, uang, hubungan dengan orang lain, apapun. Begitupun rasa, saat rasa bahagia, sedih, marah, haru, bisa datang dan pergi, bisa didapatkan dan dilepaskan, dimiliki dan hilang. Dengan waktu berjalan
Jumat, 09 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

2 komentar:
Smart Post!
Sang Pencipta Pemilik Modal, kita hanya reseller!
thank you shanty
salam kenal juga...
:)
Posting Komentar